Sel Darah Saat Mengalami Stres 1 Featured

Thursday, 23 April 2015 00:00 Written by  Published in Oksidan Read 1425 times

Selama ini istilah stres lebih dikenal sebagai kondisi kejiwaan. Ternyata lebih dari itu, stres juga dialami darah yang mengalir di tubuh kita, terutama apabila darah merespon materi buruk yang masuk, seperti asap rokok atau sejenis polutan lainnya.

Pada umumnya para perokok berharap dengan menghisap asap tembakau tersebut akan menurunkan ketegangan, lebih rileks dan sebagai teman saat berfikir, kawan saat sendiri atau ketika dicekam dingin,

Sehingga bagi sebagian orang rokok sudah menjadi kebutuhan. Ironisnya, ketika orang tersebut mencoba meredakan stres, stres tersebut berpindah pada sel darah merah di tubuhnya.

Dampak stress yang menyerang darah juga tidak kalah fatal, dalam jangka waktu lama hal ini akan menjadi pencetus terjadinya kanker. Stres pada sel darah merah adalah sebuah realita.

Sel darah dikatakan mengidap stres ketika terjadi perubahan sel darah normal yang mengalami stres oksidatif atau berubahnya ikatan kimia darah akibat serangan senyawa radikal bebas yang memicu oksidasi.

Stres oksidatif yang menyerang darah dapat  merubah lingkungan darah dan mengakibatkan sel darah merah menyimpang dari homeostatis (reaksi alami tubuh yang mempertahankan konsentrasi zat di tubuh agar senantiasa konstan). 

Sementara penyimpangan homeostatis tubuh dapat merugikan sel darah merah. Metabolismne oksigen di dalam sel darah merah merupakan rangkaian proses yang kompleks dan saling terkait serta berlangsung terus selama 120 hari.

Kerusakan pada sel darah merah dapat mengganggu fungsinya yaitu mengantarkan oksigen untuk pernapasan bagi sel. Untuk melindungi sel darah merah, di dalam sel darah merah terdapat senyawa antioksidan alami dengan kadar yang tinggi.

Meliputi superoxide dismutase (SOD), catalase, dan glutathion peroxidase (GPx). Oleh sebab itu dapat dikatakan sel darah merah merupakan sel tubuh yang berfungsi sangat vital. Sel darah merah adalah salah satu sel yang sangat rentan terhadap radikal bebas. Sel darah merah tidak memiliki inti.

Jika terjadi kerusakan akibat polusi asap rokok, emisi kendaraan, makanan dan minuman yang tidak sehat dan lain-lain, darah tidak dapat mempertahankan kadar antioksidan (yang normalnya didapatkan secara alami) tersebut dengan cara menyintesisnya.

Sel darah merah dapat beradaptasi ketika terjadi serangan agen yang menyebabkan oksidasi sel. Tetapi apabila oksidasi sel melebihi batas toleransi, sel darah merah akan gagal beradaptasi.

Hal ini biasa terjadi ketika interaksi dengan stresor (penyebab stress oksidatif) berlangsung lama dan dengan intensitas yang kuat sehingga sel darah merah mengalami exhausted (kelelahan).

Jika hal ini dibiarkan terjadi dalam waktu lama akan terjadi denaturasi spektrin (kerusakan dinding) sel darah merah yang bersifat permanen dan menurunkan fungsi sel darah merah dalam menopang kehidupan. (Dinukil dari buku Cara Cerdas Atasi Radikal Bebas karya Wahyudi Widada, S.Kep, M.Ked)

Candra P. Pusponegoro

Bengkel Manusia, Bukan Sembarang Bekam...! Town House Anggrek Sari Blok G/2 Kel. Taman Baloi Kec. Batam Kota, Kota Batam, Provinsi Kepri, Indonesia, 29463 | Tel. (+62) 778-4801831 & (+62) 812-6850-3533 & WhatsApp Only (+62) 813-2871-2147 | Email: info[at]terapioksidan[dot]com | Didukung CV. Rezeki Lumintu Abadi NPWP 74.941.304.3-225.000 Norek BRI 151-60-10000-24305 a/n CV. Rezeki Lumintu Abadi & Yayasan An Nubuwwah Batam www.an-nubuwwah.or.id SK Kemenkumham RI Nomor AHU-0032582.AH.01.04.Tahun 2016 NPWP 80.269.773.0-215.000