Cintaku Merekah di Depan Ka'bah

Thursday, 06 October 2016 23:43 Written by  Published in Religi Read 331 times

Ka'bah, bangunan yang menyerupai bentuk kubus ini merupakan bangunan pertama di atas bumi yang digunakan untuk menyembah Allah.

Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 96, yang artinya:

“Sesungguhnya permulaan rumah yang dibuat manusia untuk tempat beribadah itulah rumah yang di bakkah (Mekkah), yang dilimpahi berkah dan petunjuk bagi alam semesta" (Ali Imran 96).

Ka'bah disebut juga Baitullah (Rumah Allah) atau Baitul Atiq (Rumah Kemerdekaan). Dibangun berupa tembok persegi empat yang terbuat dari batu-batu besar berwarna kebiru-biruan yang berasal dari gunung-gunung di sekitar Mekkah.

Rumah Allah ini dibangun di atas satu dasar pondasi yang kokoh terbuat dari batu marmer, tebalnya kira-kira 25 cm. Data fisik dari Ka'bah:

a. Tinggi seluruh dinding 15 meter
b. Lebar dinding utara 10,02 meter
c. Lebar dinding barat 11,58 meter
d. Lebar dinding selatan 10,13 meter
e. Lebar dinding timur 10,22 meter

Keempat dindingnya ditutup dengan kelambu sutra hitam yang dinamai kiswah dan tergantung dari atap sampai kaki. Setiap tahun kiswah diganti pada saat upacara haji akan dimulai dan untuk menyemarakkan upacara akbar tahunan itu.

Kiswah dipasang lapisan dan disambung dengan kain putih untuk menjadi tanda bahwa Kabah dalam keadaan ihram. Pada tanggal 10 Dzulhijjah, ketika Makkah kosong di saat jemaah haji masih berada di Mina, kiswah dan penutup Maqam Ibrahim diganti dengan yang baru.

Kiswah dihiasi tulisan-tulisan ayat suci Alquran yang disulam dengan benang emas. Salah satu kalimat yang tertera pada sulaman kiswah adalah kalimat syahadat sebagai berikut lafaz: Allah Jalla Jalalah, La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah. Artinya Allah Maha Agung, Tiada Tuhan Selain Allah.
 
Pintu Ka’bah
Pada dinding sebelah Timur di samping Hajar Aswad terdapat pintu yang diberi nama Al Burk. Tingginya kira-kira 2 meter dan terbuat campuran logam, emas dan perak. Di pintu itu ditatahkan ayat-ayat Alquran, tentang Ka'bah, haji, salat, dan tauhid. Di dalam Ka'bah terdapat tiga buah tiang untuk menopang atap dan sebuah tangga melalui pintu kecil untuk naik ke atas atap.

Multazam
Hajar Aswad terletak di pojok sebelah Timur kira-kira satu setengah meter dari lantai dasar. Dinding antara Hajar Aswad dengan pintu Ka'bah yang lebarnya kurang dari 2 meter diberi nama dinding MULTAZAM.

Disebut demikian karena di sinilah salah satu dari tiga lokasi atau tempat paling mustajab untuk memanjatkan doa-doa kepada Allah. Jemaah yang sudah tawaf biasanya berebut untuk mencurahkan isi hati dan menghadap Allah dengan doa-doa yang biasanya diucapkan dengan air mata bercucuran.
 
Almijan
Di dekat pintu, kira-kira di hadapan Maqam (batu tempat berdiri) Nabi Ibrahim, terdapat tempat yang banyak dipergunakan jemaah untuk salat, disebut Almijan. Di sinilah Nabi Ibrahim dan anaknya, Nabi Ismail, berdiri sejenak sebelum bekerja pada waktu membuat Ka’bah.

Matwaf
Bagian tempat tawaf di sekeliling Kabah diberi lantai marmer. Hanya sebatas marmer inilah ukuran luas Masjidil Haram pada masa Nabi Muhammad. Tempat ini sekarang disebut matwaf atau tempat tawaf.
 
Maqam Ibrahim
Pintu Bani Syaibah di sebelah Timur Laut Ka'bah adalah tempat masuk resmi ke tempat tawaf. Antara pintu itu dan Ka'bah terdapat sebuah rumah kecil berkubah hijau, berdinding teralis besi. Inilah Maqam Ibrahim, tempat utama mengerjakan salat (tempat imam berdiri untuk semua salat jemaah di Masjidil Haram).

Maqam Tempat Imam
Tidak seberapa jauh dari dinding Hajar Aswad terdapat sebuah rumah kecil tempat Sumur Zamzam yang sekarang berada di bawah lantai dan di sebelah atasnya adalah Maqam Imam Syafi'i. Tiga Maqam lagi yaitu Maqam Imam Hanafi terletak di sebelah Barat, Maqam Imam Hambali terletak di sebelah Tenggara dan Maqam Imam Maliki di sebelah Utara. Dahulu tempat-tempat ini dipergunakan oleh Imam tiap mazhab pada waktu salat lima waktu, sehingga tiap waktu salat diadakan empat kali berjemaah menurut mazhab masing-masing. Namun, cara bermazhab ini sekarang sudah ditiadakan.

Rukun-rukun Ka’bah
Rukun yang dimaksud di sini adalah rukun yang mengandung arti harfiahnya "Sudut atau Pojok". Sudut yang berjumlah empat buah tersebut yang terdapat pada bangunan Ka'bah, merupakan rukun yang diutamakan di dalam manasik haji. Rukun tersebut, yaitu; Rukun Yamani dan Rukun Hajar Aswad disebut 'Dua Rukun Yamani", karena tempat kedua rukun ini menghadap Yaman.

Adapun dua rukun lainnya adalah Rukun Iraqi dan Rukun Syam yang disebut sebagai "Dua Rukun Syamiani" karena keduanya mengarah ke negeri Syam yang sekarang meliputi semua negara yang terletak di pantai Timur Laut Tengah, seperti Yordania, Palestina, Syria, dan Lebanon.
 

Sejarah Ka’bah
Disebutkan dalam sejarah bahwa pembangunan Ka'bah berlangsung selama 10 generasi. Pembangunan pertama oleh malaikat yaitu 2.000 tahun sebelum Nabi Adam Alaihis Salam diciptakan, sebagai tempat tawaf-nya malaikat di bumi.

Selanjutnya dengan dibantu malaikat, Nabi Adam Alaihis Salam dihitung sebagai generasi kedua yang membangun kembali Ka'bah dan melakukan tawaf.

Setelah Nabi Adam Alaihis Salam wafat, dibangun kembali oleh salah seorang putranya yaitu Syis bin Adam, dengan menggunakan tanah dan batu.

Ka'bah yang dibangun oleh Syis itu berdiri terus sampai pada zaman Nabi Nuh Alaihis Salam, pada zaman Nabi Nuh inilah Ka'bah runtuh karena topan dan banjir besar.

Sejarah pembangunan Ka'bah sampai generasi ketiga itu tidak terdapat baik dalam Alquran maupun hadis. Pembangunan Ka'bah generasi keempat dilakukan oleh Nabi Ibrahim Alaihis Salam dan putranya, yakni Nabi Ismail Alaihis Salam.

Keterangan dimaksud terdapat dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 125 yang artinya;

“Dan (ingatlah) ketika Kami jadikan rumah (baitullah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia, dan dijadikanlah maqam Ibrahim tempat salat. Dan Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail untuk membersihkan rumahku itu bagi orang-orang yang thawaf, yang iktikaf, yang ruku, dan bagi yang sujud” (Al Baqarah 125).

Ketika Ka'bah yang didirikan oleh Nabi Ibrahim Alaihis Salam itu runtuh, maka pembangunan yang kelima dilakukan oleh suku Amaliqah. Ketika Ka'bah yang dibangun oleh suku Amaliqah itu hancur, pembangunan yang keenam oleh suku Jurhum, di mana mereka mengadakan perubahan terhadap ukuran dinding-dinding Ka'bah.

Pembangunan kedelapan dilakukan oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad. Generasi kesembilan yang membangun Ka'bah adalah suku Quraisy. Mulai generasi inilah data-data pembangunan mulai dicatat sehingga hal ihwal Ka'bah dapat diikuti melalui tulisan para sejarawan.

Ka'bah Ditinggikan
Generasi kesepuluh dalam pembangunan Ka’bah adalah Abdullah bin Zubair, waktu itu menjabat Walikota Mekkah. Perubahan besar yang dilakukan oleh Zubair adalah mengubah tinggi Ka'bah, dari 5 meter menjadi 15 meter, diberi atap, dan di pojok utara dibuat tangga untuk naik ke atas loteng serta dihiasi dengan emas.

Sepuluh tahun kemudian, setelah Abdullah biz Zubair wafat, atas izin khalifah Abdul Malik bin Marwan, pintu Barat yang dibuat Zubair ditutup dengan alasan untuk mengembalikan bangunan Ka'bah kepada keadaan yang hampir sama dengan yang dibuat oleh Nabi Ibrahim Alaihis Salam.

Banjir Besar
Pada tanggal 19 Sya'ban 1039 H turun hujan lebat yang terus menerus mulai jam dua malam sampai waktu menjelang Asar dan bersambung lagi sampai besoknya, 20 Sya'ban. Banjir besar menggenangi tidak saja Ka'bah dan Masjidil Haram tetapi seluruh rumah penduduk kota Makkah. Kira-kira 1.000 orang meninggal waktu itu dan banyak binatang ternak yang mati.

Sore hari tanggal Kamis, 20 Sya'ban 1039 H, runtuhlah sebagian dinding Ka'bah, yaitu dinding Syami, sebagian dinding Timur dan Barat serta loteng atap pun ambruk. Menjelang Magrib runtuhlah dinding serambi Ka'bah.

Hiruk pikuk dan ketakutan melanda masyarakat kota Makkah. Walikota Mekkah waktu itu, Mas'ud bin Idris bin Hasan, segera memerintahkan agar tanggul pintu Ibrahim yang menjadi saluran air Masjidil Haram segera dibuka.

Maka air pun mengalir ke hilir kota Makkah. Penjaga Ka'bah diperintahkan untuk masuk segera ke dalam Ka'bah dan mengeluarkan semua pelita dan 22 lampu-lampu yang terbuat dari emas.

Salah satu di antaranya bertahtakan permata dan mutiara mutu manikam. Barang-barang tersebut diselamatkan dan disimpan di rumah Syekh Jamaluddin Muhammad Abu Qasim Asy Syaibi.

Candra P. Pusponegoro

Bengkel Manusia, Bukan Sembarang Bekam...! Town House Anggrek Sari Blok G/2 Kel. Taman Baloi Kec. Batam Kota, Kota Batam, Provinsi Kepri, Indonesia, 29463 | Tel. (+62) 778-4801831 & (+62) 812-6850-3533 & WhatsApp Only (+62) 813-2871-2147 | Email: info[at]terapioksidan[dot]com | Didukung CV. Rezeki Lumintu Abadi NPWP 74.941.304.3-225.000 Norek BRI 151-60-10000-24305 a/n CV. Rezeki Lumintu Abadi & Yayasan An Nubuwwah Batam SK Kemenkumham RI Nomor AHU-0032582.AH.01.04.Tahun 2016 NPWP 80.269.773.0-215.000