Jokowi-Prabowo Adalah Kita Featured

Saturday, 11 August 2018 02:23 Written by  Published in Religi Read 278 times

Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara satu dengan yang lain. Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain tidak diperkenankan menzalimi, menipu, atau melecehkannya.

Syariat Islam paling dahsyat untuk seluruh umat di dunia. Allah telah menurunkan Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam sebagai suri tauladan.

Allah berfirman: Laqad kana lakum fi rasulillahi uswatun hasanah (QS. Al Ahzab: 21). Sebab uswatun hasanah yang ada pada diri nabi ini, maka umat Islam di seluruh dunia diperintahkan selalu ittiba’ kepada rasulullah.

Keagungan Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bukan hanya dinilai oleh umat Islam saja. Kaum orientalis juga menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam merupakan manusia terhebat sepanjang sejarah.

Seperti dikonsepsikan Thomas Carlyne dengan ukuran kepahlawanan, Marcoz Dods dengan keberanian moral, Nazmi Luke dengan ukuran metode pembuktian ajaran, Will Duran dengan hasil karya, dan Michael H. Hart dengan tolok ukur pengaruh yang ditinggalkan.

Kesemuanya menempatkan Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam pada urutan teratas. Seorang sarjana bernama Annemarie Schimeel menyebut kelahiran Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam merupakan simbol kemenangan monotheisme atas dualisme Persia dan Trinitas.

Sejarah mencatatat, peringatan maulid nabi pertama kali dilakukan oleh pemerintah Harun Ar Rasyid dari Dinasti Fatimiyah di Mesir. Pada masa itu Harun Ar Rasyid menyebarkan sedekah bagi kaum fakir miskin dan membuat pesta meriah.

Dalam catatan sejarah lainnya disebutkan maulid pertama kali dilaksnakan pada abad 12 Masehi. Pada saat umat Islam di Palestina sedang menghadapi perang salib di bawah komando Shalahuddin Al Ayyubi.

Tujuan peringatan ini adalah untuk menumbuhkan semangat juang umat dalam menghadapi perang salib. Sejak masa itu, maulid menyebar ke seluruh dunia. Beberapa yang paling terkenal adalah peringatan maulid di kerajaan Islam Arbela Irak. Kerajaan ini melakukan penyambutan maulid sejak bulan Muharam dan puncaknya 12 Rabiul Awal.

Pada puncak acara ini seluruh tamu diberikan jamuan makanan terbaik sambil mendengarkan pembacaan riwayat nabi (Al Barzanji atau Dhiba’an). Selain itu, juga dilakukan prosesi menyalakan lilin bersama sebagai simbol awal terangnya dunia (Nur Muhammad) dari sifat kejahiliahan.

Mayoritas umat Islam juga mengakui bahwa ziarah pada tanggal 12 Rabi’ul Awal memiliki nilai lebih dibanding waktu-waktu yang lain. Tidak heran apabila pada hari itu banyak sekali umat Islam di seluruh dunia melakukan ziarah ke makam orang-orang suci atau wali.

Di Al Jazair misalnya, pada hari kelahiran Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam, masyarakat berziarah ke makam para wali. Dan puncak acaranya, penguasa (raja) membagikan uang dan jenis sedekah lainnya kepada rakyat sebagai simbol kemurahan Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam yang menitis pada sosok raja.

Dalam tradisi kraton juga diadakan prosesi pembagian sedekah. Disimbolkan dengan tumpeng berbentuk gunung (gunungan) sebanyak lima buah. Setelah dipikul oleh para abdi dalem keraton dan diarak keliling kota, kemudian dihantarkan ke Masjid Agung (Masjid Gede) untuk didoakan, lalu diberikan pada rakyat sebagai tanda kebesaran, keberkatan, dan kemurahan raja.

Di Aceh punya cerita sendiri, peringatan maulid nabi ada hubungannya dengan pengakuan atas kerajaan Turki Usmani pada abad ke-16 sebagai sentral kekuasaan Islam seluruh dunia. Peringatan maulid nabi dilakukan sebagai ganti upeti pada kerajaan Turki Usmani.

Bukan simbol ritual tetapi simbol ketundukan pada pusat kekuasaan Islam. Pada acara maulid nabi ini, hingga tiga bulan berikutnya masyarakat Aceh mengadakan upacara besar-besaran dengan memasak makanan terlezat. Puncak acaranya dilaksanakan di masjid kerajaan yang dihadiri oleh seluruh rakyat.

Tidak terkecuali sang raja juga hadir dan memberikan sedekah kepada para fakir miskin. Beragam peringatan maulid di atas, intinya adalah satu kesyukuran dan upaya untuk menghormati dan meneladani Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam.

Selain ajaran tauhid, Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam mengemban tugas untuk membebaskan umat manusia dari segala belenggu ketidakadilan dan kezaliman. Dalam hadis Nabi bersabda:

"Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara satu dengan yang lain, karena seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain, tidak diperkenankan menzalimi, menipu, atau melecehkannya" (HR. Muslim).

Penghormatan martabat kemanusiaan adalah prinsip dalam Islam. Bahkan dalam satu teks hadis, prinsip kemanusiaan ini dianggap lebih utama dibanding kemuliaan Hajar Aswad (batu hitam) di Kabah. Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa ketika Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam mencium Hajar Aswad di Kabah, beliau bersabda di hadapan Hajar Aswad:

“Demi Allah, yang menguasai diriku, martabat dan kehormatan seorang mukmin lebih mulia di hadapan Allah dibanding martabat dan kehormatanmu (wahai Hajar Aswad), (karena itu) haram atas harta dan jiwanya” (HR. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, No. 3932 dan As Suyuthi, Ad Durr Al Mantsur 7/565).

Prinsip kemanusiaan ini menjadi basis dari setiap relasi sosial dalam kehidupan manusia. Dalam kondisi apapun, seseorang tidak boleh bertindak secara zalim terhadap yang lain. Sebaliknya harus saling berbuat baik dan membantu satu sama lain.

Tidak boleh ada kesewenang-wenangan oleh pihak yang satu terhadap yang lain, karena kesewenang-wenangan adalah tindakan biadab yang tercela dan merendahkan martabat kemanusiaan. Situasi ketidakadilan yang menyalahi kodrat keilahiaan dan kemanusian terus diperjuangkan Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam sebagai pembawa risalah Allah di muka bumi dan didengungkan sampai saat ini.

Misi ini yang diperjuangkan Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam sepanjang hidupnya dan diwariskan kepada seluruh umatnya. Seseorang yang mengaku muslim harus menjaga sikap dan sifat tercela. Ada sebuah kebiasaaan yang sering dilakukan tanpa disadari, membicarakan (ghibah) aib orang lain.

Terlalu asyik diskusi, curhat, facebook-an, twitter-an atau hal lain, yang terkadang menjerumuskan seseorang untuk membicarakan kejelekan orang lain. Tidak sedikit mereka mengaku Islam dengan sengaja masih menggunjing kekurangan orang lain. Bahkan di antara umat Islam saling mengolok-olok sesama muslim lainnya. Apalagi menjelang pemilihan umum (pemilu), baik legislatif maupun presiden.

Ketika orang lain melakukan kesalahan, seseorang yang tidak bersalah akan merasa dirinya suci. Tidak jarang juga, kesalahan-kesalahan orang lain yang kita tidak tahu kebenarannya disampaikan kepada orang lain. Secara umum, tidak ada manusia satupun di muka bumi ini yang luput dari kesalahan.

Membuka aib orang lain merupakan perbuatan yang sangat keji. Selain tercela, perbuatan itu merupakan dosa sangat besar. Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:

"Siapa yang menutupi aib seorang muslim maka akan ditutupi aibnya di dunia dan di akhirat" (HR. Ibnu Majah Juz II/79).

"Siapa yang mengajak kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Siapa yang mengajak kesesatan maka baginya dosa seperti dosa yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun" (HR. Muslim 2674)

Allah juga berfirman yang artinya: "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat makruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia" (QS. An Nisaa' 114).

Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam sangat mewanti-wanti kepada umat muslim untuk menutupi rahasia (kejelekan) saudara muslim lainnya. Dalam sabda Rasulullah disebutkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu yang artinya:

"Tahukah kamu apakah ghibah atau menceritakan aib orang lain itu? Maka para sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Kemudian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menerangkan: Yaitu kamu menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dia benci? Maka ada sebagian sahabat yang bertanya: Beritahukan kepada kami, bagaimana jika yang saya katakan ada padanya? Beliau nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: Jika yang kamu katakan ada padanya, maka kamu telah berbuat ghibah, dan jika tidak ada padanya apa yang kamu katakan maka kamu telah berdusta padanya" (HR. Muslim).

Telah banyak larangan-larangan yang bersumber kepada Alquran dan hadis tentang membuka aib, mencela, mengolok-olok, menggunjing, menghina, atau merendahkan orang lain. Dan secara psikologis, membuka dan membicarakan aib orang lain merupakan gangguan kepribadian yang harus segera diobati.

Jika tidak segera diobati maka akan memunculkan penyakit hati yang berujung kepada kekufuran. Lebih baik kita meluruskan niat dan mengoreksi ibadah kita sendiri. Ambil cermin dan lihatlah kesalahan dan kelemahan kita. Sudah terlalu banyak Allah menutupi kesalahan-kesalahan kita, tidak terhitung betapa kasih dan rahmat Allah untuk kita sehingga keburukan-keburukan kita dilindungi-Nya.

Allah juga berfirman di dalam surat Al Hujurat ayat 12 yang artinya:

"Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya".

Memang pada kenyataannya untuk mencegah perbuatan dan sifat tercela sangat berat godaannya. Tetapi Allah sudah memberikan akal untuk memilah dan memilih. Yang paling penting niat dan ikhtiar merupakan hal yang wajib. Maka dari itu, apabila ada saudara muslim di sekeliling yang suka menceritakan kejelekan, maka kewajiban kita mengingatkan dan mencegahnya.

Saudaraku, kita ini manusia yang lemah. Tidak ada manusia yang hidup tanpa salah dan dosa. Maka dari itu, jadilah kita hamba-hamba Allah yang saling mengingatkan dan memaafkan kesalahan orang lain, bukan menjadi hakim atas kesalahan dan aib orang lain.

Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda dari Anas, ketika aku (Rasulullah) dinaikkan (mikraj), aku melewati suatu kaum yang mempunyai kuku dari kuningan, mereka mencakar-cakar muka dan dada mereka sendiri, maka aku (Rasulullah) berkata:

"Siapa mereka itu, wahai Jibril? Maka Jibril pun menjawab: Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia (membicarakan aib) dan menyentuh kehormatan mereka" (HR. Abu Daud).

Hadis ini menegaskan haram bagi seorang muslim untuk membunuh, memakan harta, atau melecehkan kehormatan muslim lainnya dengan cara yang tidak dibolehkan dalam syariat. Menceritakan aib orang lain adalah termasuk dosa besar dan termasuk maksiat yang paling besar di kalangan kaum muslimin.

Ghibah atau membicarakan kejelekan atau keburukan orang lain. Dan hal ini penyebab terjadinya permusuhan antara kaum muslimin dan merusak persaudaraan di antara mereka. Karena buruknya perbuatan ghibah ini Allah Ta 'Ala mengumpamakan orang yang berbuat ghibah dengan orang yang makan daging saudaranya yang sudah mati.

Sanksi baginya bahwa dia di alam barzakh (alam antara kehidupan dan hari kiamat), mereka mencabik-cabik muka dan dadanya sendiri. Perbuatan ghibah termasuk dosa besar. Kemudian menyebut orang lain dengan sesuatu yang dia benci adalah termasuk ghibah yang haram dilakukan, walaupun hal itu benar-benar ada pada orang tersebut.

Selain itu haramnya mendengarkan ghibah, karena orang yang mendengarkan telah membantu saudaranya untuk ghibah dan ridha dengan ghibah tersebut. Kita sebagai muslim wajibnya mengingkari orang yang berbuat ghibah dan melarangnya dari perbuatan tersebut. Sebab sangat pedih sanksi bagi orang yang berbuat ghibah di alam barzakh nanti.

Untuk itu, melindungi kehormatan seorang muslim adalah yang paling utama sehingga Allah akan memelihara mukanya kepada kita di neraka kelak. Mari kita sambut pemilu legislatif dan presiden dengan jujur dan adil. Mencoblos adalah pilihan nurani. Bagaimanapun juga calon presiden dan wakil presiden kita adalah orang Islam.

Haram atas harta dan jiwanya jika umat Islam saling mengolok-olok, menghujat, mencaci, dan melecehkan mereka. Selaku pendukung atau simpatisan tidak usah merasa paling hebat, pintar, benar, dan bersih. Marilah jaga lisan dan hati kita sebab seluruh perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah kelak.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda;

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتاَبوُا الـْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِـعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

"Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya. Janganlah kalian menggunjing (ghibah) kaum muslimin dan jangan mencari-cari atau mengintai aurat (aib) mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aib kaum muslimin, Allah akan mencari-cari aibnya. Dan siapa yang dicari-cari aibnya oleh Allah niscaya Allah akan membongkarnya di dalam rumahnya walaupun dia tersembunyi dari manusia" (HR. Ahmad 4/420, 421,424 dan Abu Dawud Nomor 4880, shahih)

Candra P. Pusponegoro

Bengkel Manusia, Bukan Sembarang Bekam... (Asli Pisau)! Pengobatan Khusus Diabetes, Ginjal, Jantung, Skizofrenia, Penyakit Medis Lainnya & Non Medis (Gangguan Jin & Setan) | Town House Anggrek Sari Blok G/2 Kel. Taman Baloi Kec. Batam Kota, Batam, Provinsi Kepri, Indonesia, 29463 | (+62) 812-6850-3533 & WhatsApp Only (+62) 813-2871-2147 | Email: info[at]terapioksidan[dot]com | Didukung CV. Rezeki Lumintu Abadi www.rezekilumintu.co.id & Yayasan An Nubuwwah Batam www.an-nunuwwah.or.id | Norek BRI 151-60-10000-24305 a/n CV. Rezeki Lumintu Abadi | Daftar Online Klik Di Sini!