Cethil Sepulang Umrah dan Haji Featured

Sunday, 30 July 2017 23:52 Written by  Published in Renungan Read 385 times

Perayaan musim haji belum berakhir. Kesempatan ini hanya datang setiap sekali dalam setahun. Kebiasaan masyarakat menghargai mereka sepulang dari berumrah dan berhaji sangat berbeda-beda.

Kadang-kadang, sebelum bepergian, ada upacara pemberangkatan umrah atau haji terkesan “dipaksakan”. Sehingga saat pulang dari tanah suci, bukan kebahagiaan yang didapatkan, melainkan harus melunasi utang-piutang.

Memang, prosesi umrah dan haji yang panjang menghabiskan dana yang tidak sedikit. Intinya harus ditebus dengan perjuangan fisik dan mental yang berat selama berada di tanah suci.

Akibatnya membuat paradigma masyarakat sangat apresiatif terhadap siapa pun yang sudah menunaikan ibadah umrah maupun haji.

Secara syariat, ibadah umrah dan haji merupakan ibadah yang sama seperti ibadah-ibadah lainnya, hanya saja tata cara dan pelaksanaannya berbeda.

Masyarakat memanggil mereka dengan sebutan ‘haji’ atau ‘hajjah’. Seringkali terdengar panggilan haji sering mengalahkan nama si empunya. Barangkali, hanya sebutan dokter yang bisa mengimbangi popularitas panggilan ‘haji’ yang terjadi dalam masyarakat.

Alhasil, sebutan haji menempel bagi siapapun yang sudah menjadi tamu Allah di Mekkah dan Madinah (haromain). Gelar haji terkadang melebihi titel yang didapat selama pendidikan D1, D2, D3, S1, S2, dan S3.

Saat ini, sebutan haji juga sering disandingkan dengan para ‘ulama atau kyai’ sebagai apresiasi atas keilmuan bagi yang menyandangnya. Hanya saja, sejatinya ibadah umrah dan haji bukanlah jenjang pendidikan atau karier untuk meraih gelar.

Tetapi semata-mata merupakan niat yang bersih untuk memenuhi panggilan Allah. Selesai ibadah haji, haji dan hajjah harus bersikap tawadhu’ dan meningkat ibadahnya sepulang dari tanah suci. Bukan malah berubah menjadi orang pelit (baca: cethil dalam Bahasa Jawa) atau nylekuthis.

Haji atau umrah harus memiliki niat yang bersih. Sama halnya dengan ibadah-ibadah yang dikerjakan oleh umat muslim lainnya selama mereka tinggal di tanah airnya.

Jadi jangan sampai kepergian ke tanah suci salah niat, bahkan ada juga yang pergi umrah atau haji hanya untuk mencari gelar, hura-hura (belanja-belanja) atau mencari pesugihan.

Hal ini sering terjadi, mencari pesugihan-nya dengan mengambil batu di haromain atau nyempil (nyolong) kiswah (kain selubung) Ka'bah.

Salah niat yang dimaksud di sini seperti niat mencari gelar haji atau hajjah. Menjadi tamu Allah dengan salah niat jelas sebuah kesalahan yang fatal.

Sebab, apapun niat yang ada dalam hati umat tidak akan lepas dari pantauan Allah, Dzat Yang Maha Tahu. Itu sebabnya, menyimpan niat lain selain memenuhi panggilan Allah (lillahi ta’ala) saat menjalankan ibadah umrah atau haji adalah sebuah pekerjaan yang sia-sia.

Kalau ibadah umrah dan haji hanya untuk mencari gelar, tentu saja mereka sudah beralih dari yang tadinya niat untuk Allah menjadi niat buat manusia. Sedangkan pelaksanaan ibadah umrah haji itu walillah alannasi hijjul bait (hanya khusus untuk Allah semata).

Maka itu orang yang pergi umrah dan haji itu diawali dari niat. Dan niat itu harus karena Allah saja. Lebih dari sekadar niat, ibadah umrah dan haji juga harus dilandasi keinginan untuk mendapat ridha Allah.

Harus dikerjakan dengan ikhlas dan rasa syukur, bahwa yang bersangkutan sudah mampu memenuhi panggilan sebagai tamu (al mutakmirin) di rumah Allah.

Sebab, tidak semua umat muslim bisa mendapatkan kesempatan dan anugerah untuk menjadi tetamu Allah di Makkah dan Madinah. Maka sebaiknya dalam pelaksanaan ibadah umrah atau haji harus sesederhana mungkin.

Ibadah umrah dan haji bukan hanya dituntut menyiapkan kemampuan mental tetapi juga harus bisa menjaga fisik agar dapat menjalankan semua rukun dan syaratnya. Harapannya ibadah umrah dan haji yang dilakukan bisa sah dan mendapatkan kemabruran.

Sejujurnya, gelar haji justru tidak dikenal dalam fikih islam. Gelar haji pada permulaannya di zaman Turki Utsmani.

Dari beberapa buku atau kitab yang ada selama ini, baik seperti buku fiqih sunnah, imam ahli hadis atau buku-buku yang lain tidak ada istilah gelar atau titel haji. Namun di Turki sendiri sebutan atau gelar haji justru tidak digunakan pada awal nama seseorang.

Untuk itu, mengingatkan agar mereka yang akan atau sudah pulang dari umrah atau haji agar tidak salah dalam berniat. Justru sepulang dari tanah suci lebih rendah hati, kualitas ibadah dan amaliahnya semakin meningkat.

Yang lebih penting lagi adalah mencari ridha dan keberkahan Allah. Apabila seorang mampu beribadah sebaik-baiknya dan melaksanakan semua manasik umrah atau haji, Insya Allah akan mendapat predikat umrah dan haji mabrur.

Apabila selama melakukan ibadah umrah dan haji tidak berbicara jorok, tidak fasik, dan tidak berkelahi (rafats, fusuq, jidal), Insya Allah akan mendapat predikat umrah dan haji mabrur yang balasannya tiada lain hanyalah surga.

Meraih kemabruran merupakan dambaan setiap calon jemaah umrah dan haji. Terlebih lagi bagi jemaah haji Indonesia. Karena kebiasaan calon jemaah untuk bisa melakukan ibadah umrah maupun haji harus mengumpulkan dana dalam kurun waktu yang lama.

Sehingga saat ibadah haji tiba, usia mereka banyak yang tua-tua. Ada dua penghargaan yang dijanjikan Allah bagi yang haji dan umrahnya diterima yakni surga. Dan seperti bayi yang baru lahir dari perut ibunya, kayaumin wala dathu ummuhu.

Walau demikian, sebutan ‘haji’ atau ‘hajjah’ tampaknya bukan tidak bermanfaat. Sebagaimana tradisi komunitas muslim Indonesia, gelar ‘haji’ atau ‘hajjah’ secara psikologis akan menjadi peringatan kepada para penyandang titel itu sendiri.

Tujuannya supaya mereka senantiasa berusaha menyesuaikan perilakunya dengan identitas mulia yang diberikan oleh masyarakatnya. Selain janji surga, keluarga atau masyarakat sekitar juga ingin merasakan kemabruran ibadah umrah dan haji itu sendiri.

Setidak-tidaknya melalui perilaku terpuji yang selalu ditampilkan oleh mereka yang sudah menjalankan ibadah umrah dan haji. Bahkan dengan sungguh-sungguh, sabar, ikhlas, syukur, istiqomah dalam beramaliah, dan dermawan, bukan malah pelit bin medhit.

Candra P. Pusponegoro

Bengkel Manusia, Bukan Sembarang Bekam...! Town House Anggrek Sari Blok G/2 Kel. Taman Baloi Kec. Batam Kota, Kota Batam, Provinsi Kepri, Indonesia, 29463 | Tel. (+62) 778-4801831 & (+62) 812-6850-3533 & WhatsApp Only (+62) 813-2871-2147 | Email: info[at]terapioksidan[dot]com | Didukung CV. Rezeki Lumintu Abadi NPWP 74.941.304.3-225.000 Norek BRI 151-60-10000-24305 a/n CV. Rezeki Lumintu Abadi & Yayasan An Nubuwwah Batam www.an-nubuwwah.or.id SK Kemenkumham RI Nomor AHU-0032582.AH.01.04.Tahun 2016 NPWP 80.269.773.0-215.000