Duduk di Surga Apa Neraka?

Wednesday, 19 October 2016 19:23 Written by  Published in Renungan Read 1237 times

Semua yang terjadi di dunia ini tidak lepas dari qadha’ dan qodar (takdir) yang ditetapkan Allah. Dalam hadis shahih Muslim dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخُلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ وَعَرْشُه عَلَى الْمَاء ”

Allah telah menulis takdirnya makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan beberapa langit dan bumi. Dan, arasy’ (singgasananya) Allah di atas air. Allah telah menetapkan segala takdir, mencatat takdir semua makhluk, lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.  

Jadi lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi (penciptaan langit dan bumi), Allah sudah punya rencana menciptakan ini dan itu, menciptakan tumbuhan, hewan, manusia, menciptakan kehidupan manusia dari zaman Nabi Adam sampai hari kiamat, modelnya begini, begitu dan semua sudah ada catatannya.  

“Arasy-Nya Allah di atas air” itu sebagai pelengkap penjelasan. Dan, pertama kali yang diciptakan oleh Allah adalah qolam (pena). Ketika qolam telah diciptakan, Allah berfirman: “Tulislah!” Qolam mengatakan: “Maadza aktub?” “Ya Allah, apa yang akan saya tulis? Allah berfirman: “Tulislah, takdir!”. Takdir segala makhluk sampai dengan hari kiamat.

Jadi, berarti orang itu kufur, orang itu Islam, orang itu iman, orang itu tidak iman, orang itu ditetapkan (qodar) bisa menetapi agama Islam berdasarkan Alquran dan hadis, semuanya itu merupakan qadar dari Allah. Adapun orang itu di-qadar bisa menetapi agama Islam berdasarkan Alquran dan hadis, maka hal itu benar-benar takdir yang sangat baik.  

Termasuk juga Allah menciptakan surga dan neraka, sebelum diciptakan sudah ditulis dulu, surga itu modelnya seperti apa, sifatnya seperti bagaimana, siapa-siapa saja yang akan masuk surga atau neraka? Maka barangsiapa yang akan masuk neraka, sudah ada hitungannya semuanya. Hal ini merujuk sabda Rasulullah yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab berikut:

 حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا مَالِكٌ ح وَحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ أَخْبَرَنِي مَالِكٌ قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ عَبْد اللَّهِ بْن أَحْمَد و حَدَّثَنَا مُصْعَبٌ الزُّبَيْرِيُّ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَبِي أُنَيْسَةَ أَنَّ عَبْدَ الْحَمِيدِ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدِ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَخْبَرَهُ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ يَسَارٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سُئِلَ عَنْ هَذِهِ الْآيَةِ { وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّاتِهِمْ } الْآيَةَ فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ ثُمَّ مَسَحَ ظَهْرَهُ بِيَمِينِهِ وَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ ذُرِّيَّةً فَقَالَ خَلَقْتُ هَؤُلَاءِ لِلْجَنَّةِ وَبِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَعْمَلُونَ ثُمَّ مَسَحَ ظَهْرَهُ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ ذُرِّيَّةً فَقَالَ خَلَقْتُ هَؤُلَاءِ لِلنَّارِ وَبِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ يَعْمَلُونَ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَفِيمَ الْعَمَلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا خَلَقَ الْعَبْدَ لِلْجَنَّةِ اسْتَعْمَلَهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَمُوتَ عَلَى عَمَلٍ مِنْ أَعْمَالِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُدْخِلَهُ بِهِ الْجَنَّةَ وَإِذَا خَلَقَ الْعَبْدَ لِلنَّارِ اسْتَعْمَلَهُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى يَمُوتَ عَلَى عَمَلٍ مِنْ أَعْمَالِ أَهْلِ النَّارِ فَيُدْخِلَهُ بِهِ النَّارَ

Telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Malik dan telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah mengabarkan kepadaku Malik, telah berkata Abu Abdurrahman Abdullah Bin Ahmad; telah menceritakan kepada kami Mush’ab Az Zubairi telah menceritakan kepadaku Malik dari Zaid bin Abi Unaisah bahwa Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Zaid bin Al Khaththab telah mengabarkan kepadanya dari Muslim bin Yasar Al Juhani bahwa Umar bin Al Khaththab ditanya tentang ayat ini: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari punggungnya” (QS. Al A’raf 172).

Maka Umar menjawab; “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang ayat tersebut, kemudian beliau menjawab: Sesungguhnya Allah menciptakan Adam, kemudian mengusap punggungnya, lalu dari punggungnya (Adam) Allah mengeluarkan keturunan Adam seraya berfirman: “Aku (Allah) ciptakan mereka untuk masuk ke dalam surga dan mereka beramal dengan amalan penghuni surga.” Kemudian Allah mengusap punggung Adam dan darinya Allah mengelurkan keturunannya, seraya berfirman; ‘Aku ciptakan mereka untuk masuk ke dalam neraka dan mereka beramal dengan amalan penghuni neraka.” Maka bertanyalah seorang sahabat; “Wahai Rasulullah lalu untuk apa beramal?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sesungguhnya Allah apabila menciptakan seorang hamba untuk masuk ke dalam surga, maka akan menjadikannya beramal dengan amalan penghuni surga, sehingga ketika dia meninggal berada di atas amalan penghuni surga, kemudian memasukkannya ke dalam surga. Dan apabila menciptakan hamba untuk masuk ke dalam neraka, maka akan menjadikannya beramal dengan amalan penghuni neraka, sehingga ketika dia meninggal berada di atas amalan penghuni neraka, kemudian memasukkannya ke dalam neraka.”

Penjelasan hadis di atas adalah sesungguhnya Allah menciptakan Nabi Adam Alaihi Salam, kemudian Allah mengusap punggungnya Nabi Adam, keluarlah anak-anak turunnya (begitu diusap oleh Allah, ruh-ruh manusia keluar semuanya), berkumpul di sebelah kanan, lalu Allah ta’ala berfirman:

 خَلَقْتُ هَؤُلاءِ لِلْجَنَّةِ وَبِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّة يَعْمَلُونَ ِ  

Aku (Allah) ciptakan (yang gemrudul-gemrudul) keluar dari punggungnya Nabi Adam itu untuk ahli surga dan nanti mereka akan mengamalkan amalan ahli surga. Kemudian, Allah mengusap lagi punggungnya Nabi Adam, berkumpul di sebelah kiri. Kemudian Allah berfirman: “Aku ciptakan mereka untuk ahli neraka atau jadi ahli neraka, dan dengan amalan ahli neraka itulah mereka beramal”. Jadi di sini sudah jelas, siapa calon-calon ahli surga sudah ditetapkan, siapa calon-calon ahli neraka sudah ditetapkan.

Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kalau begitu buat apa kita beramal?” “Walaupun kita memaksimalkan amalan, kalau qodar-nya masuk neraka, kan nggak bisa masuk surga?” “Walaupun kita tidak beramal, kalau qodar-nya masuk surga, ya masuk surga”? (Seolah-olah pertanyaannya begitu). Lantas, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab:

 عن أبي عبدالرحمن عبدالله بن مسعود رضي الله عنه قال حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق ” إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم علقه مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك , ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح , ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه , وأجله , وعمله , وشقي أم سعيد . فوالله الذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار , وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة

Dari Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, bahwa Rasulullah telah bersabda: “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan empat hal: rezeki, ajal, amal, dan celaka atau bahagianya. Maka demi Allah yang tiada illah selain-Nya, ada seseorang di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga” (HR. Al Bukhari dalam Bad’ul Khalq)

Maksud hadis “Maka demi Allah yang tiada illah selain-Nya, ada seseorang di antara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja,” adalah seseorang yang menurut pandangan mata manusia mengerjakan amalan surga dan ketika sudah mendekati ajalnya mengerjakan amalan penduduk neraka, kemudian ia dimasukkan ke dalam neraka.

Jadi yang dimaksud ‘jaraknya dengan surga atau neraka tinggal sehasta‘ bukan tingkatan dan kedekatannya dengan surga, namun waktu antara hidupnya dengan ajalnya tinggal sebentar, seperti sehasta.

Yang patut kita pahami dari hadis ini, bukan berarti ketika kita sudah berusaha melakukan kebaikan dan amalan ibadah maka Allah akan menyia-nyiakan amalan kita. Karena hadis di atas diperjelas dengan hadis lainnya, yaitu; “Sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amalan ahli surga menurut pandangan manusia, padahal sebenarnya dia penduduk neraka” (HR. Muslim No. 112).

Sedangkan maksud hadis, “kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka,” artinya, kemudian orang tersebut meninggalkan kebiasaan amalan ahli surga yang sebelumnya dia amalkan. Hal itu disebabkan adanya sesuatu yang merasuk ke dalam hatinya yang menjerumuskan orang tersebut ke dalam neraka.

Hal ini perlu diperjelas agar tidak ada prasangka buruk terhadap Allah Ta’ala. Karena seorang hamba yang melaksanakan amalan ahli surga dan ia melakukannya dengan jujur dan penuh keikhlasan, maka Allah tidak akan menelantarkannya. Allah pasti memuliakan orang-orang yang beribadah kepada-Nya. Namun bencana dalam hati bukan merupakan suatu perkara yang mustahil. Contoh kisah untuk memperjelas hadis ini yang terjadi di zaman nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut;

Ada seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang bersama beliau dalam suatu peperangan. Sahabat ini tidak pernah membiarkan kesempatan untuk membunuh lawan melainkan ia pasti melakukannya, sehingga orang-orang merasa takjub melihat keberaniannya dan mereka berkata, “Dialah yang beruntung dalam peperangan ini.” Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia termasuk ahli neraka”.

Pernyataan rasulullah ini menjadi perkara besar bagi para sahabat radhiallahu ‘anhum dan membuat mereka bertanya-tanya keheranan. Maka seseorang di antara mereka berkata; “Aku akan mengikutinya ke manapun dia pergi”. Kemudian orang yang pemberani ini terkena panah musuh hingga ia berkeluh kesah. Dalam keadaan itu ia mencabut pedangnya, kemudian ujung pedangnya ia letakkan pada dadanya, sedangkan genggaman pedangnya ia letakkan di tanah, lalu ia menyungkurkan dirinya (ke arah depan), hingga pedang tersebut menembus punggungnya (alias bunuh diri). Na’udzu billah.

Orang yang mengikutinya tadi datang menghadap rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi seraya berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.” “Kenapa engkau katakan itu?” tanya rasulullah. Ia berkata, “Sesungguhnya orang yang engkau (rasulullah) katakan tentangnya dia termasuk ahli neraka, telah melakukan suatu tindakan (bunuh diri).” Maka setelah itu rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang itu telah beramal dengan amalan ahli surga pada pandangan manusia, padahal sebenarnya dia penduduk neraka” (HR. Bukhari No. 2898 dan Muslim No. 112)

Jadi, ketika Allah Azza Wajalla menciptakan seorang hamba untuk jadi ahli surga maka hamba itu akan mengamalkan amalan ahli surga sampai mati tetep mengamalkan amalan ahli surga, hingga hamba itu dimasukkan ke dalam surga dengan amalnya itu.

Jadi, kepastiannya sudah ada, siapa yang jadi calon ahli neraka, siapa yang jadi calon ahli surga. Salah satu tandanya, adalah kalau ahli surga itu yang diamalkan pasti amalan ahli surga sampai mati, kalau ahli neraka itu yang diamalkan pasti amalan ahli neraka sampai mati.

Cuma mulainya kapan? Mari kita simak hadis berikut ini:

مِنْهُمْ مَنْ يُوْلَدُ مُؤْمِنًا وَ يَحْيَ مُؤْمِنًا وَيَمُوْتُ مُؤْمِنًا وَمِنْهُمْ مَنْ يُوْلَدُ كَافِرًا وَ يَحْيَ كَافِرًا وَيَمُوْتُ كَافِرًا
 وَمِنْهُمْ مَنْ يُوْلَدُ مُؤْمِنًا وَ يَحْيَ مُؤْمِنًا وَيَمُوْتُ كَافِرًا وَمِنْهُمْ مَنْ يُوْلَدُ كَافِرًا وَ يَحْيَ كَافِرًا وَيَمُوْتُ مُؤْمِنًا

Minhum man yuuladu mu’minan, wayahya mu’minan, wa yamuutu mu’minan waminhum man yuuladu kafiron, wayahya kafiron, wa yamuutu kafiron waminhum man yuuladu mu’minan, wayahya mu’minan, wa yamuutu kaafiron, waminhum man yuuladu kafiron, wayahya kafiron, wa yamuutu mu’minan (HR. Dawud).

Artinya: "Anak turun Nabi Adam itu diciptakan dalam tingkat-tingkat yang berbeda-beda. Di antara mereka ada yang lahir dalam keadaan iman, hidup dalam keadaan iman, mati pun dalam keadaan iman. Maka beruntunglah orang-orang yang dituliskan qodar seperti ini. Otomatis ini, yang lahirnya dalam keadaan “bibit unggul”, lahir dalam keluarga iman, tidak mengalami “waingkanu ming qoblu lafii dholaalim mubiin”.

Yang kedua, waminhum man yuuladu kafiron, wayahya kafiron, wa yamuutu kafiron. Lahir dalam keadaan tidak iman, hidup dalam keadaan tidak iman, mati pun dalam keadaan tidak iman.

Qodar-nya tidak ketemu hidayah, walaupun tinggal satu rumah, ya tidak kena, nggak tahu. Yang ketiga, di antara mereka ada yang lahir dalam keadaan tidak iman, hidup dalam keadaan tidak iman, mati dalam keadaan iman.

Lahir dan hidupnya dalam keadaan tidak iman, tapi kok begitu mau mati dapat hidayah. Ada juga yang begitu insyaf jadi orang iman, kemudian mati. Ada kisah salah seorang ibu yang dinasihati, diarahkan, diberikan ‘amar ma’ruf bersedia.

di dalam perjalanan setelah menyampaikan janji imannya qodarnya mati (dalam keadaan mantap, yakin bahwa kalau saya janji jadi orang iman, yakin Allah memberi surga). Untung itu! Amalannya sedikit tapi maksimal.

Dari orang yang lahir tidak iman, hidup tidak iman tapi matinya iman, ada yang kurang setahun, kurang 2 tahun, kurang 10 tahun, kurang 20 tahun, sebelum matinya sudah iman dahulu.

Setelah iman: اسْتَعْمَلَهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَمُوتَ عَلَى عَمَلٍ مِنْ أَعْمَالِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُدْخِلَهُ بِهِ الْجَنَّةَ

Yang keempat, lahir dalam keadaan iman, hidup dalam keadaan iman, tapi sebelum mati malah tidak beriman, menurut dalil hadis di atas jaminannya pasti orang itu masuk neraka. Ini orang yang rugi, naudzubillah min dzalik.

Kita meyakini sudah dalam keadaan iman, kita berusaha mengamalkan amalan ahli surga, tapi proses selanjutnya kita belum tahu, apakah keimanan kita sampai mati, kita tidak tahu, ya nggak? Oleh karena itu dinasihati supaya mengikat dengan empat tali keimanan: bersyukur, berdoa, mengagungkan, dan mempersungguh amalan kebajikan.

Kita sudah menyaksikan saudara-saudara kita yang mati duluan, matinya disaksikan baik. Ada seorang mubaligh yang melarat mulai insyaf sampai dengan matinya melarat tapi disaksikan baik. Waktunya dilonggar-longgarkan buat ibadah sehingga semua menyaksikan itu orang baik. Kalau sudah begitu, karuan sudah berhasil. Tapi kalau kita ini, masih dalam teka-teki.

Makanya, pertama kali kita harus bersyukur; kita jadi orang Islam, kedua kita harus syukur bisa mendalami Alquran hadis, kita harus syukur kita dalam menetapi keimanan, kita harus syukur ibadah kita ini tertib, teratur, karena bentuk kita ini bentuk yang dibawa rasulullah.

Kita diperintah Allah beragama Islam, ini sudah kita tetapi, pedomannya Alquran dan hadis seperti yang rasulullah dan para sahabat:

“Inni uutitum kitaballoh wamitslahu”, “taroktu fiikum amroini lan tadhillu maa tamassaktum bihima, kitabillah wasunnati nabiyyihi”. Ya kita mantapkan dulu kita dengan hati yang ridho, hati longgar, dengan niat hati karena Allah betul-betul menjalankannya.

Inilah kita yakini sebagai tanda-tanda amalan ahli surga. Atas hidayah dari Allah, harus betul-betul kita agungkan. Kita agungkan itu maksudnya dinomorsatukan, kepentingan Alquran dan hadis harus didahulukan daripada kepentingan pribadi dan keluarga.

Ini namanya mengagungkan. “Adhoma (mengagungkan) ma adhomahulloh (apa yang diagungkan Allah), wa soghoro ma soghorulloh (dan mengecilkan apa yang dianggap kecil oleh Allah). Jadi, jalan hidup kita ini yang kita maksimalkan yaitu ibadah dengan cara meyakini agama Islam dengan kaffah.

Kita terus ikhtiar apa saja yang keluar dari Allah dan rasul-Nya kita terima dan kita amalkan sesuai kemampuan kita “fastabiqul khoirot”, “fattaqulloh mastatho’tum”. Semuanya haris dilandasi dengan niat karena Allah semata.

 إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ رواه النسائ  “

Sesungguhnya Allah yang Maha Luhur tidak akan menerima amalan kecuali amalan yang murni dan amalan itu dicari karena mengharapkan wajah-Nya.” Intinya adalah mahabbah atau kecintaan. Buktinya orang yang meyakini laailaaha illallah, harus cinta kepada Allah, cinta kepada rasul, dan bisa taat sesuai syariat.

Dengan begitu, urip sakdermo tidak neko-neko (hidup apa adanya, banyak sedikit disyukuri, kurang atau lebih dinimati dengan rasa syukur). Ini barulah berhasil dalam menjalankan syariat Islam dengan sempurna.

…وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ… سورة النساء اية ١٣ “…Barangsiapa yang taat Allah dan Rasul-Nya maka Allah akan memasukannya ke dalam surga...”

…وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا…سورة النساء أية ١٤ Dan barangsiapa yang menentang (tidak taat) Allah dan Rasul-Nya dan melanggar aturan-aturanNya maka Allah memasukannya ke dalam neraka …وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُمْ مِن خَيْرٍ تَجِدُواهُ عِندَ اللهِ إِنَّ اللهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيْرٌ.

Dan apa-apa yang kalian dahulukan dari kebaikan (harta yang diinfaqkan) untuk kalian maka kalian akan menjumpainya di sisi Allah, sesungguhnya Allah Maha Melihat dengan apa-apa yang kalian amalkan وَمَا أَنفَقْتُم مِن شَيئٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ.

“Dan apa-apa yang telah kalian infaqkan dari sesuatu maka Allah tidak akan menyelisihinya (akan dibalas).”

إِنَّ اللهَ اشْتَرَا مِنَ الْمُؤمِنِينَ أَنفُسَهُم وَأَمْوَلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ. Sesungguhnya Allah telah menukarkan diri dan hartanya orang-orang yang beriman, akan ditukarkan dengan surga.

Dalam bahasan lain, sesungguhnya seorang anak Adam, telah ditentukan oleh Allah akan dimasukkan ke surga atau neraka jauh sebelum mereka dilahirkan.

Sebagaimana terdapat dalam hadis;

“Allah menciptakan Adam, lalu ditepuk pundak kanannya kemudian keluarlah keturunan yang putih, mereka seperti susu. Kemudian ditepuk pundak yang kirinya lalu keluarlah keturunan yang hitam, mereka seperti arang. Allah berfriman: Mereka (yang seperti susu) akan masuk ke dalam surga sedangkan Aku tidak peduli dan mereka (yang seperti arang) akan masuk ke neraka sedangkan Aku tidak peduli"(Shahih HR. Ahmad, Ath Thabrani dalam kitab Al Mu’jamul Kabir dan Ibnu Asakir, Shahihul Jami’ No. 3233)

Dari Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang membawa tongkat sambil digores-goreskan ke tanah seraya bersabda;

"Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di neraka ataupun surga" (HR. Bukhari dan Muslim)

Setelah mengetahui bahwa seseorang telah ditentukan akan dimasukkan ke surga atau neraka, tentu akan timbul pertanyaan dan kesimpulan berdasarkan akal logika manusia yang lemah.

"Kalau begitu buat apa kita beramal? Nanti sudah capai-capai ibadah, ternyata hanya masuk neraka” atau perkataan semisal itu.

Pertanyaan semisal inipun banyak ditanyakan oleh para sahabat di berbagai kesempatan. Salah satunya adalah pertanyaan seorang sahabat ketika mendengar pernyataan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam;

"Tidak ada seorang pun di antara kalian kecuali telah ditetapkan tempat duduknya di neraka atau pun surga.’

Maka para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, kalau begitu apakah kami tinggalkan amal shalih dan bersandar dengan apa yang telah dituliskan untuk kami (ittikal)?” (maksudnya pasrah saja tidak melakukan suatu usaha apapun)

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ .ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى ). الآية

Beramallah kalian! Sebab semuanya telah dimudahkan terhadap apa yang diciptakan untuknya. Adapun orang-orang yang bahagia, maka mereka akan mudah untuk mengamalkan amalan yang menyebabkan menjadi orang bahagia. Dan mereka yang celaka, akan mudah mengamalkan amalan yang menyebabkannya menjadi orang yang celaka”. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah: 'Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah” (HR. Bukhari, kitab At Tafsir dan Muslim, dan kitab Al Qadar)

Candra P. Pusponegoro

Bengkel Manusia, Bukan Sembarang Bekam... (Asli Pisau)! Pengobatan Khusus Diabetes, Ginjal, Jantung, Skizofrenia, Penyakit Medis Lainnya & Non Medis (Gangguan Jin & Setan) | Town House Anggrek Sari Blok G/2 Kel. Taman Baloi Kec. Batam Kota, Batam, Provinsi Kepri, Indonesia, 29463 | (+62) 812-6850-3533 & WhatsApp Only (+62) 813-2871-2147 | Email: info[at]terapioksidan[dot]com | Didukung CV. Rezeki Lumintu Abadi www.rezekilumintu.co.id & Yayasan An Nubuwwah Batam www.an-nunuwwah.or.id | Norek BRI 151-60-10000-24305 a/n CV. Rezeki Lumintu Abadi | Daftar Online Klik Di Sini!