Jangan Kau Sakiti, Mereka Saudara Kita

Monday, 07 July 2014 00:00 Written by  Published in Renungan Read 2588 times
Ir. H. Joko Widodo dan H. Prabowo Subianto Ir. H. Joko Widodo dan H. Prabowo Subianto

Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara satu dengan yang lain. Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain tidak diperkenankan menzalimi, menipu, atau melecehkannya.

Ramadan merupakan satu kalender "ritual" paling dahsyat untuk umat Islam di seluruh dunia. Termasuk Ramadan di ibu pertiwi. Allah telah menurunkan Nabi Muhammad sebagai suri tauladan.

Allah berfirman: Laqad kana lakum fi rasulillahi uswatun hasanah (QS. Al Ahzab: 21). Sebab uswatun hasanah yang ada pada diri nabi ini, maka umat Islam di seluruh dunia diperintahkan selalu ittiba’ kepada Rasulullah.

Keagungan Nabi Muhammad bukan hanya dinilai oleh umat Islam saja. Kaum orientalis pun menyebutkan bahwa Muhammad merupakan manusia terhebat sepanjang sejarah.

Seperti dikonsepsikan Thomas Carlyne dengan ukuran kepahlawanan, Marcoz Dods dengan keberanian moral, Nazmi Luke dengan ukuran metode pembuktian ajaran, Will Duran dengan hasil karya, dan Michael H. Hart dengan tolak ukur pengaruh yang ditinggalkan.

Kesemuanya menempatkan Muhammad pada urutan teratas. Seorang sarjana bernama Annemarie Schimeel menyebut kelahiran Nabi Muhammad merupakan simbol kemenangan monotheisme atas dualisme Persia dan Trinitas.

Peringatan Maulid nabi pertama kali dilakukan oleh pemerintah Harun Ar Rasyid dari Dinasti Fatimiyah di Mesir. Pada masa itu Harun Ar Rasyid menyebarkan sedekah bagi kaum fakir miskin dan membuat pesta meriah.

Dalam catatan sejarah lain menyebutkan maulid pertama kali dilaksnakan pada abad 12 Masehi. Pada saat umat Islam di Palestina sedang menghadapi perang salib di bawah komando Shalahuddin Al Ayyubi.

Tujuan peringatan ini adalah untuk menumbuhkan semangat juang umat dalam menghadapi perang salib. Sejak masa itu, maulid menyebar ke seluruh dunia.

Beberapa yang paling terkenal adalah peringatan maulid di Kerajaan Islam Arbela Irak. Kerajaan ini melakukan penyambutan Maulid sejak bulan Muharam dan puncaknya 12 Rabiul Awal.

Pada puncak acara ini seluruh tamu diberikan jamuan makanan terbaik sambil mendengarkan pembacaan riwayat nabi (al Barzanji atau Dhiba’an). Selain itu, juga dilakukan prosesi menyalakan lilin bersama sebagai simbol awal terangnya dunia (nur Muhammad) dari sifat kejahiliahan.

Mayoritas umat Islam juga mengakui bahwa ziarah pada tanggal 12 Rabi’ul Awal memiliki nilai lebih dibanding waktu-waktu yang lain.  Tidak heran apbila pada hari itu banyak sekali umat Islam di seluruh dunia melakukan ziarah ke makam orang-orang suci atau wali.

Di Al Jazair misalnya, pada hari kelahiran Muhammad, masyarakat berziarah ke makam para wali. Dan puncak acaranya, penguasa (raja) membagikan uang dan jenis sedekah lainnya kepada rakyat sebagai simbol kemurahan Nabi Muhammad yang menitis pada sosok raja.

Dalam tradisi kraton juga diadakan prosesi pembagian sedekah. Disimbolkan dengan tumpeng berbentuk gunung (gunungan) sebanyak lima buah.

Setelah dipikul oleh para abdi dalem keraton dan diarak keliling kota, kemudian dihantarkan ke Masjid Agung (Masjid Gede) untuk didoakan, lalu diberikan pada rakyat sebagai tanda kebesaran, keberkatan, dan kemurahan raja.

Di Aceh punya cerita sendiri, peringatan Maulid Nabi ada hubungannya dengan pengakuan atas kerajaan Turki Usmani pada abad ke-16 sebagai sentral kekuasaan Islam seluruh dunia.

Peringatan Maulid Nabi dilakukan sebagai ganti upeti pada kerajaan Turki Usmani. Bukan simbol ritual tetapi simbol ketundukan pada pusat kekuasaan Islam.

Pada acara Maulid Nabi Muhammad ini, hingga tiga bulan berikutnya masyarakat Aceh mengadakan upacara besar-besaran dengan memasak makanan terlezat.

Puncak acaranya dilaksanakan di masjid kerajaan yang dihadiri oleh seluruh rakyat, tak terkecuali sang raja juga hadir dan memberikan sedekah kepada para fakir miskin.

Bermacam ragam peringatan maulid di atas, intinya adalah satu kesyukuran dan upaya untuk menghormati dan meneladani Nabi Muhammad. Selain ajaran tauhid, Nabi Muhammad mengemban tugas untuk membebaskan umat manusia dari segala belenggu ketidakadilan dan kezaliman.

Dalam hadis Nabi bersabda: Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara satu dengan yang lain, karena seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain, tidak diperkenankan menzalimi, menipu, atau melecehkannya (HR. Muslim).

Penghormatan martabat kemanusiaan adalah prinsip dalam Islam. Bahkan dalam satu teks hadis, prinsip kemanusiaan ini dianggap lebih utama dibanding kemuliaan Hajar Aswad (Batu Hitam) di Kabah.

Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa ketika Nabi Muhammad mencium Hajar Aswad di Kabah, beliau bersabda di hadapan Hajar Aswad:

“Demi Allah, yang menguasai diriku, martabat dan kehormatan seorang mukmin lebih mulia di hadapan Allah dibanding martabat dan kehormatanmu (wahai Hajar Aswad), (karena itu) haram atas harta dan jiwanya” (HR. Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, No. 3932 dan As Suyuthi, Ad Durr Al Mantsur 7/565).

Prinsip kemanusiaan ini menjadi basis dari setiap relasi sosial dalam kehidupan manusia. Dalam kondisi apa pun, seseorang tidak boleh bertindak secara zalim terhadap yang lain.

Sebaliknya harus saling berbuat baik dan membantu satu sama lain. Tidak boleh ada kesewenang-wenangan oleh pihak yang satu terhadap yang lain, karena kesewenang-wenangan adalah tindakan biadab yang tercela dan merendahkan martabat kemanusiaan.

Trafiking (perdagangan manusia) merupakan salah satu bentuk kejahatan yang masih terus terjadi hingga hari ini. Rentetan kejahatan trafiking begitu kompleks, terorganisir, sistematis, dan lintas kenegaraan (transnasional).

Menelusuri basis kejahatan traficking juga bukan pekerjaan sederhana karena harus menguliti secara mendalam atas praktek perburuhan (migrant), buruh anak, buruh perempuan, pekerja rumah tangga (PRT), dan lain-lain.

Secara sederhana, setiap model perburuhan yang tidak memberikan rasa keadilan maka di dalamnya terselubung kejahatan traficking. Menempatkan perempuan yang tidak setara dengan kelompok manusia lainnya juga menunjukkan salah satu bentuk ketidakadilan.

Mempekerjakan anak sebagai buruh pada dasarnya juga telah melanggar hak-hak anak yang harus ditunaikan oleh orang tua dan negara.

Problem-problem di atas merupakan situasi ketidakadilan dan menyalahi kodrat keilahian dan kemanusian yang diperjuangkan oleh Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah Allah di muka bumi.

Misi ini yang diperjuangkan Nabi Muhammad sepanjang hidupnya dan diwariskan kepada seluruh umatnya. Mengerjakan puasa bukan hanya sekedar menahan lapar dan dahaga.

Seseorang yang mengaku muslim dan sedang puasa harus menjaga sikap dan sifat tercela. Ada sebuah kebiasaaan yang sering dilakukan tanpa disadari, membicarakan aib orang lain.

Terlalu asyik diskusi, curhat, facebook-an, twitter-an atau hal lain, yang terkadang seseorang terjerumus membicarakan kejelekan orang lain.

Tidak sedikit mereka yang menjalankan puasa namun dengan sengaja masih menggunjing kekurangan orang lain. Bahkan di antara umat Islam saling mengolok-olok sesama muslim lainnya. Apalagi menjelang pemilihan presiden.

Ketika orang lain melakukan kesalahan, seseorang yang tidak bersalah akan merasa suci. Lalu bersorak atas kesalahan dan kelemahan orang lain itu.

Tidak jarang juga, kesalahan-kesalahan orang lain yang kita tidak tahu kebenarannya disampaikan kepada orang lain. Secara umum, tidak ada manusia satu pun di muka bumi ini yang tidak salah melakukan kesalahan.

Membuka aib orang lain merupakan perbuatan yang sangat keji. Selain tercela, perbuatan itu merupakan dosa besar.

Rasulullah bersabda: Siapa yang menutupi aib seorang muslim maka akan ditutupi aibnya di dunia dan di akhirat (HR. Ibnu Majah Juz II/79, shahih).

Siapa yang mengajak kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Siapa yang mengajak kesesatan maka baginya dosa seperti dosa yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit (HR. Muslim 2674)

Allah juga berfirman yang artinya: Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat makruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia (QS. An Nisaa' 114).

Nabi Muhammad sangat mewanti-wanti kepada umat muslim untuk menutupi rahasia (kejelekan) sudara muslim lainnya. Dalam sabda Rasulullah disebutkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu yang artinya:

Tahukah kamu apakah ghibah atau menceritakan aib orang lain itu? Maka para sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.

Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menerangkan: Yaitu kamu menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dia benci? Maka ada sebagian sahabat yang bertanya:

Beritahukan kepada kami, bagaimana jika yang saya katakan ada padanya? Beliau nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab:

Jika yang kamu katakan ada padanya, maka kamu telah berbuat ghibah, dan jika tidak ada padanya apa yang kamu katakan maka kamu telah berdusta padanya (HR. Muslim).

Dari penjelasan di atas telah banyak larangan-larangan yang bersumber kepada Al Qur'an dan As Sunnah tentang membuka aib orang lain. Dan secara psikologis, membuka dan membicarakan aib orang lain merupakan gangguan kepribadian yang harus segera diobati.

Sebab jika tidak segera di atasi maka akan memunculkan penyakit hati dan berujung kepada kekufuran. Lebih baik kita meluruskan niat dan mengoreksi ibadah kita sendiri. Ambil cermin dan lihatlah kesalahan dan kelemahan kita.

Sudah banyak Allah menutupi kesalahan-kesalahan kita, tidak terhitung betapa kasih dan rahmat Allah kepada kita sehingga keburukan-keburukan kita dilindungi-Nya.

Momentum Ramadan 1435 Hijriah ini merupakan medan pertempuran untuk melawan nafsu-nafsu yang ada di dalam diri manusia. Selama setahun berlalu umat muslim juga telah menjalankan puasa Ramadan sebelumnya.

Namun Ramadan yang sudah dilewati dari masa ke masa apakah sudah membawa perubahan dan pencerahan? Hanya diri kita sendiri yang bisa menilai dan mengukurnya.

Allah juga berfirman di dalam surat Al Hujurat ayat 12 yang artinya: Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.

Memang pada kenyataannya untuk mencegah perbuatan dan sifat tercela sangat berat godaannya. Tetapi Allah sudah memberikan akal untuk memilih, yang paling penting niat dan ikhtiar merupakan hal yang wajib.

Maka dari itu, apabila ada saudara muslim disekeliling yang suka menceritakan kejelekan, maka kewajiban kita mengingatkan dan mencegahnya.

Saudaraku seiman, kita ini manusia yang lemah. Tidak ada manusia yang hidup tanpa salah dan dosa. Bahkan kita wajib memiliki dosa.

Maka dari itu, jadilah kita hamba-hamba Allah yang saling mengingatkan dan memaafkan kesalahan orang lain, bukan menjadi hakim atas kesalahan dan aib orang lain.

Rasulullah bersabda dari Anas, ketika aku (Rasulullah) dinaikkan (mikraj), aku melewati suatu kaum yang mempunyai kuku dari kuningan, mereka mencakar-cakar muka dan dada mereka sendiri, maka aku (Rasulullah) berkata:

Siapa mereka itu, wahai Jibril? Maka Jibril pun menjawab: Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia (membicarakan aib) dan menyentuh kehormatan mereka" (HR. Abu Daud).

Dari penjelasan hadis di atas, maksudnya haram bagi seorang muslim untuk membunuh, memakan harta, atau melecehkan kehormatan muslim lainnya dengan cara yang tidak dibolehkan dalam syariat.

Menceritakan aib orang lain adalah termasuk dosa besar dan termasuk maksiat yang paling tersebar di kalangan kaum muslimin. Dan mereka menganggap remeh permasalahan ini sehingga mereka tidak memungkiri perbuatan tersebut jika terjadi di hadapan mereka.

Ghibah atau membicarakan kejelekan atau keburukan orang lain. Dan hal ini penyebab terjadinya permusuhan antara kaum muslimin dan merusak persaudaraan di antara mereka.

Karena buruknya perbuatan ghibah ini Allah Taala mengumpamakan orang yang berbuat ghibah dengan orang yang makan daging saudaranya dalam keadaan mati.

Sanksi baginya bahwa dia di alam barzakh (alam antara kehidupan dan hari kiamat), mereka mencabik-cabik muka dan dadanya sendiri.

Perbuatan ghibah termasuk dosa besar. Kemudian menyebut orang lain dengan sesuatu yang dia benci adalah termasuk ghibah yang haram dilakukan, walaupun hal itu benar-benar ada pada orang tersebut.

Selain itu haramnya mendengarkan ghibah, karena orang yang mendengarkan telah membantu saudaranya untuk ghibah dan rida dengan ghibah tersebut.

Kita sebagai muslim wajibnya mengingkari orang yang berbuat ghibah dan melarangnya dari perbuatan tersebut.

Sebab sangat pedih sanksi bagi orang yang berbuat ghibah di alam barzakh nanti. Keutamaan melindungi kehormatan seorang muslim, maka Allah akan memelihara mukanya dari api neraka pada hari kiamat.

Selamat beramadan dan mencoblos pilihan Anda. Bagaimanapun juga calon presiden kita ada orang muslim. Haram atas harta dan jiwanya jika kita mengolok-olok, menghujat, mencaci, dan melecehkan mereka. Marilah kita salat, sebelum diri kita disalatkan.

Candra P. Pusponegoro

Bengkel Manusia, Bukan Sembarang Bekam...! Pengobatan Khusus Diabetes, Ginjal, Jantung, Skizofrenia, Penyakit Medis Lainnya & Non Medis | Alamat: Town House Anggrek Sari Blok G/2 Kel. Taman Baloi Kec. Batam Kota, Kota Batam, Provinsi Kepri, Indonesia, 29463 | (+62) 812-6850-3533 & WhatsApp Only (+62) 813-2871-2147 | Email: info[at]terapioksidan[dot]com | Didukung CV. Rezeki Lumintu Abadi & Yayasan An Nubuwwah Batam | Norek BRI 151-60-10000-24305 a/n CV. Rezeki Lumintu Abadi