Semua Masuk Neraka Kecuali Satu

Sunday, 26 March 2017 23:42 Written by  Published in Renungan Read 449 times

وَإِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ

Sesungguhnya agama tauhid ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku (Allah) adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku (QS. Al Mu’minun 52)

فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ


Kemudian mereka pengikut-pengikut rasul itu menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka masing-masing (QS. Al Mu’minun 53)

فَذَرْهُمْ فِي غَمْرَتِهِمْ حَتَّىٰ حِينٍ


Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu (QS. Al Mu’minun 54)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda;

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ بْنِ سَعِيدِ بْنِ كَثِيرِ بْنِ دِينَارٍ الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ رَاشِدِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتْ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ


Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Utsman bin Sa'id bin Katsir bin Dinar Al Himshi, telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Shafwan bin ‘Amru dari Rasyid bin Sa’d dari 'Auf bin Malik, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Orang-orang Yahudi akan terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, satu golongan akan masuk surga dan yang tujuh puluh golongan akan masuk neraka. Dan orang-orang Nasrani terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, yang tujuh puluh satu golongan masuk neraka dan yang satu golongan akan masuk surga. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, sungguh umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, yang satu golongan masuk surga dan yang tujuh puluh dua golongan akan masuk neraka. Lalu beliau ditanya; Wahai Rasulullah, siapakah mereka yang masuk surga? Beliau menjawab: yaitu al jamaah (HR. Ibnu Majah No. 3983)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda;

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَمْرٍو حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ افْتَرَقَتْ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَإِنَّ أُمَّتِي سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ


Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Ammar, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amru, telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas bin Malik, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Sesungguhnya Bani Israil akan terpecah menjadi tujuh puluh golongan dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan, yaitu al jamaah (HR. At Tirmidzi No. 2564)

Perpecahan umat Islam mrupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Akan tetapi yang perlu diingat adalah orang sering kali tidak tahu sebab-sebab terjadinya perpecahan. Di kalangan umat Islam sekarang ini terkadang terjadi perpecahan dalam hal-hal yang sebenarnya tidak boleh terjadi.

Kita sering berpendapat, bahwa menghidari perpecahan dan membendung bahayanya sebelum hal itu terjadi jauh lebih baik daripada pengobatan setelah terjadi. Memang pendapat ini merupakan ijma’ yang disepakati. Namun sebaiknya kita mengerti bahwa menjaga dari perpecahan caranya adalah dengan jalan menghindari penyebabnya.

Ada beberapa masalah lain yang bisa menjadi faktor terhindarnya perpecahan, yaitu dalam bentuk umum maupun khusus. Sebab-sebab umumnya adalah berpegang teguh pada Alquran (kitabullah) dan sunnah rasulullah. Dengan memahami petunjuk Nabi Muhammad dan berpegang teguh kepadanya, Insya Allah kita akan mendapat petunjuk Allah.

Dengan cara ini, seseorang akan terjauhkan dari perpecahan dan pertentangan yang menuju pada perpecahan atau terjerumus ke dalamnya tanpa disadari. Sementara sebab khusus yang dapat menjaga dari perpecahan adalah megikuti jalan imam agama dari kalangan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah.

Jika tidak paham, arif, dan bijaksana, hal ini akan membuka pintu bagi klaim-klaim setiap kelompok (firqah) bahwa dialah firqah yang benar, sementara yang lain binasa. Tentu saja klaim itu akan memecah-belah umat, mendorong untuk saling benci, mencela satu sama lain atau mengafirkan sesama muslim sehingga melemahkan umat secara keseluruhannya.

Oleh karena itu, untuk memahami secara mendalam terhadap hadis riwayat Ibnu Majah nomor 3983 dan At Tirmidzi nomor 2564 atau hadis lain yang serupa isinya sangat diperlukan untuk menghindari kesalahpahaman. Perbedaan pendapat yang berujung kepada perpecahan itu karena tidak mampu memahami persoalannya secara menyeluruh.

Allah berfirman;

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al Hujurat 13)

Ayat ini sesungguhnya mengajarkan kepada umat manusia untuk saling mengerti dan memahami. Sebab Allah sengaja menciptakan perbedaan di antara umat manusia, maka manusia diperintahkan untuk saling menjaga situasi fisik dan batin terhadap sesamanya agar tidak melukai sama lain karena perbedaan yang ada.

Intinya, tinggi rendah, pintar bodoh, atau kaya miskinnya manusia di hadapan Allah itu tidak ditentukan oleh sesuatu perbedaan yang melekat pada dirinya akan tetapi oleh kadar ketakwaannya. Itulah sesungguhnya prestasi (amal kebajikan) manusia di hadapan sesama hanya bisa dilihat oleh Allah sendiri, bukan dipandang dari kacamata manusia.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ


Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu (QS. Al Hujurat 13)

Jika Anda mengaku sebagai seorang muslim taat, sebelum mengoreksi, mencela, mengafirkan atau menyalahkan orang lain sebaiknya lihat diri sendiri dulu (ngilo rupamu dalam bahasa Jawa). Bagaimana rukun Islam Anda, apakah sudah dilaksanakan dengan baik, benar, dan ikhlas? Barangkali Anda tidak hapal dengan rukun Islam itu apa saja?

Rukun Islam (1) syahadat, (2) salat, (3) puasa, (4) zakat, dan (5) haji. Padahal tidak itu saja, bisa jadi salah satu di antara rukun itu belum dikerjakan dengan baik. Atau juz 30 hanya hapal Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas saja sedangkan ayat-ayat lain dilupakan? Bisa jadi enggak pernah puasa atau malah tidak pernah salat sekalipun.

Atau keyakinan rukun iman (1) beriman kepada Allah; (2) beriman kepada malaikat; (3) beriman kepada Alquran; (4) beriman kepada rasul-rasul; (5) beriman kepada hari kiamat; (6) beriman kepada qadha & qadar juga kacau-balau? Oleh karena itu, perbanyaklah instropeksi!

Instropeksi, bagaimanakah seluruh amalan lahir dan batin Anda? Apakah amalan Anda masih tercampur dengan riya’ (pamer), ‘ujub, sombong dan sok suci di hadapan manusia? Tetapi ketika Anda sendirian Anda justru malas dan berat untuk beribadah? Mari ngilo!

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ


Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim (QS. Al Hujurat 11)

Sangat naif jika Anda telah melakukan ibadah dan merasa diterima amalannya oleh Allah lantas mencela dan mengafirkan sesama muslim, siapa tahu ibadah Anda tertolak? Atau bisa jadi amalan Anda hanya seperti debu-debu yang berterbangan?

Sungguh tidak pantas juga jika kemudian Anda memberikan klaim kepada diri sendiri atau kelompok Anda karena merasa benar dalam hal beribadah. Sebab hakikatnya, surga dan neraka itu sudah Allah tentukan penghuninya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda;

و حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ زَيْدِ بْنِ أَبِي أُنَيْسَةَ عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدِ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ يَسَارٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سُئِلَ عَنْ هَذِهِ الْآيَةِ { وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ } فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسْأَلُ عَنْهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى خَلَقَ آدَمَ ثُمَّ مَسَحَ ظَهْرَهُ بِيَمِينِهِ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ ذُرِّيَّةً فَقَالَ خَلَقْتُ هَؤُلَاءِ لِلْجَنَّةِ وَبِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَعْمَلُونَ ثُمَّ مَسَحَ ظَهْرَهُ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ ذُرِّيَّةً فَقَالَ خَلَقْتُ هَؤُلَاءِ لِلنَّارِ وَبِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ يَعْمَلُونَ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَفِيمَ الْعَمَلُ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ إِذَا خَلَقَ الْعَبْدَ لِلْجَنَّةِ اسْتَعْمَلَهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَمُوتَ عَلَى عَمَلٍ مِنْ أَعْمَالِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُدْخِلُهُ رَبُّهُ الْجَنَّةَ وَإِذَا خَلَقَ الْعَبْدَ لِلنَّارِ اسْتَعْمَلَهُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى يَمُوتَ عَلَى عَمَلٍ مِنْ أَعْمَالِ أَهْلِ النَّارِ فَيُدْخِلُهُ رَبُّهُ النَّارَ و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ


Telah menceritakan kepadaku Yahya dari Malik dari Zaid bin Abu Unaisah dari Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Zaid bin Al Khattab, bahwasanya dia mengabarkan kepadanya, dari Muslim bin Yasar Al Juhani bahwa Umar bin Khattab ditanya ayat ini: ‘(Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi’. Kami lakukan yang demikian itu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini keesaan Tuhan’ (QS. Al A’raf 172) Umar berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya tentang ayat ini, maka beliau menjawab; ‘Sesungguhnya Allah Tabaraka Wa Ta'ala menciptakan Adam lalu mengusap punggungnya dengan tangan kanan-Nya, Allah mengeluarkan darinya beberapa keturunan. Kemudian Dia berfirman; ‘Aku ciptakan mereka untuk surga dan mereka beramal dengan amalan ahli surga’. Kemudian Allah kembali mengusap punggung Adam dan mengeluarkan darinya keturunan. Kemudian Allah berfirman; ‘Aku ciptakan mereka untuk neraka dan mereka beramal dengan amalan ahli neraka’. Seorang laki-laki lalu bertanya; ‘Wahai Rasulullah, lalu untuk apa kita beramal? Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menjawab; ‘Allah jika menciptakan hamba dari ahli surga, maka Dia memperkerjakannya dengan amalan ahli surga, sehingga ia mati di atas amalan ahli surga, dan kemudian Rabbnya memasukkannya ke surga. Dan jika menciptakan hamba ahli neraka, maka Dia memperkerjakannya dengan amalan ahli neraka hingga dia mati di atas amalan-amalan ahli neraka. Lalu Rabbnya memasukkannya ke neraka.’ Telah menceritakan kepadaku dari Malik telah sampai kepadanya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda; ‘Telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya; kitabullah dan sunnah nabi-Nya’ (HR. Malik No. 1395)

Sabda yang lain;

حَدَّثَنَا الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا مَعْنٌ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ ابْنِ أَبِي أُنَيْسَةَ عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدِ بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ يَسَارٍ الْجُهَنِيِّ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سُئِلَ عَنْ هَذِهِ الْآيَةِ { وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ } فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسْأَلُ عَنْهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ ثُمَّ مَسَحَ ظَهْرَهُ بِيَمِينِهِ فَأَخْرَجَ مِنْهُ ذُرِّيَّةً فَقَالَ خَلَقْتُ هَؤُلَاءِ لِلْجَنَّةِ وَبِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَعْمَلُونَ ثُمَّ مَسَحَ ظَهْرَهُ فَاسْتَخْرَجَ مِنْهُ ذُرِّيَّةً فَقَالَ خَلَقْتُ هَؤُلَاءِ لِلنَّارِ وَبِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ يَعْمَلُونَ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَفِيمَ الْعَمَلُ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ إِذَا خَلَقَ الْعَبْدَ لِلْجَنَّةِ اسْتَعْمَلَهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَمُوتَ عَلَى عَمَلٍ مِنْ أَعْمَالِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُدْخِلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ وَإِذَا خَلَقَ الْعَبْدَ لِلنَّارِ اسْتَعْمَلَهُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى يَمُوتَ عَلَى عَمَلٍ مِنْ أَعْمَالِ أَهْلِ النَّارِ فَيُدْخِلَهُ اللَّهُ النَّارَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَمُسْلِمُ بْنُ يَسَارٍ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ عُمَرَ وَقَدْ ذَكَرَ بَعْضُهُمْ فِي هَذَا الْإِسْنَادِ بَيْنَ مُسْلِمِ بْنِ يَسَارٍ وَبَيْنَ عُمَرَ رَجُلًا مَجْهُولًا

 

Telah menceritakan kepada kami Al Ashari telah menceritakan kepada kami Ma’an, telah menceritakan kepada kami Malik bin Anas dari Zaid bin Abu Unaisah dari Abdulhamid bin Abdurrahman bin Zaid bin Al Khathtahab dari Muslim bin Yasar Al Juhani bahwa Umar bin Al Khaththab pernah ditanya tentang ayat ‘Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Rabbmu? Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi’. Kami lakukan yang demikian itu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap keesaan Rabb’ (QS. Al A'raaf 172). Umar berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam pernah ditanya tentangnya, lalu beliau menjawab: ‘Sesungguhya Allah menciptakan Adam kemudian Dia mengusap punggungnya dengan tangan kanan-Nya lalu mengeluarkan keturunan, setelah itu berfirman: ‘Aku ciptakan mereka semua untuk menghuni surga dan dengan amalan ahli surga’. Kemudian Dia mengusap punggungnya, maka keluarlah keturunan darinya, setelah itu Dia berfirman: ‘Aku ciptakan mereka untuk (menghuni) neraka dan dengan amalan ahli neraka’. Lalu ada orang yang bertanya: Wahai Rasulullah, kalau demikian apa gunanya beramal? Beliau menjawab: ‘Sesungguhnya Allah jika menciptakan hamba sebagai ahli surga, dia akan dituntun oleh-Nya untuk beramal dengan amal ahli surga sampai mereka mati dalam keadaan demikian lalu Allah memasukannya ke surga. Sedangkan jika Dia menciptakan hamba itu sebagai ahli neraka dia akan dituntun oleh-Nya untuk beramal dengan amal ahli neraka sampai mereka mati dalam keadaan demikian lalu Allah memasukannya ke dalam neraka’. Abu Isa berkata hadis ini hasan. Muslim bin Yasar tidak mendengar dari Umar. Sebagaian dari mereka menyebutkan seseorang yang tidak diketahui dalam sanad ini antara Muslim bin Yasar dan Umar (HR At Tirmidzi No. 3001)

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ إِنَّ الرَّجُلَ لِيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لِيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya ada lelaki yang beramal seperti amalan ahli surga dalam pandangan manusia, padahal dia adalah ahli neraka. Dan ada juga lelaki yang beramal dengan amalan ahli neraka dalam pandangan manusia padahal dia adalah ahli surga’ (HR. Muslim No. 163)

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ


Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya ada seseorang yang mengamalkan amalan penduduk surga berdasarkan yang nampak oleh manusia padahal dia adalah dari golongan penduduk neraka. Dan ada seseorang yang mengamalkan amalan penduduk neraka berdasarkan yang nampak oleh manusia padahal dia sebenarnya dari golongan penduduk surga’ (HR. Bukhari No. 3881)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ ثُمَّ يُخْتَمُ لَهُ عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ ثُمَّ يُخْتَمُ لَهُ عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ


Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda: ‘Ada orang yang mengamalkan amalan ahli surga pada waktu yang sangat lama, lalu dia menutup akhir hidupnya dengan amalan ahli neraka. Ada juga orang yang mengerjakan amalan ahli neraka pada waktu yang sangat lama, tetapi kemudian dia menutup akhir hidupnya dengan amalan ahli surga’ (HR. Muslim No. 4791)

Candra P. Pusponegoro

Bengkel Manusia, Bukan Sembarang Bekam...! Town House Anggrek Sari Blok G/2 Kel. Taman Baloi Kec. Batam Kota, Kota Batam, Provinsi Kepri, Indonesia, 29463 | Tel. (+62) 778-4801831 & (+62) 812-6850-3533 & WhatsApp Only (+62) 813-2871-2147 | Email: info[at]terapioksidan[dot]com | Didukung CV. Rezeki Lumintu Abadi NPWP 74.941.304.3-225.000 Norek BRI 151-60-10000-24305 a/n CV. Rezeki Lumintu Abadi & Yayasan An Nubuwwah Batam SK Kemenkumham RI Nomor AHU-0032582.AH.01.04.Tahun 2016 NPWP 80.269.773.0-215.000