Bersandar Pada Setangkai Daun Kuburan

Wednesday, 05 November 2014 00:00 Written by  Published in Sastra & Budaya Read 1942 times

Sejak kutinggalkan kota di mana aku dilahirkan, ada sesuatu yang terus menjadi inspirasi untuk menuangkan beberapa cerita dan kisah sejati.

Mungkin tidak pernah tergambar dalam benak kita tentang apa yang akan terjadi esok, dan entah kapan esok akan menjumpai kita lagi.

Aku menyudahi sarapan pagi, kulihat waktu telah menunjukkan pukul 9.30 pagi. Sebentar aku keluar menuju halaman depan rumah, kulihat langit dan gumpalan awan biru menggulung-gulung di angkasa.

Sebentar saja aku bercakap-cakap dengan Tuhan, dalam perjumpaanku sejenak, ya barangkali cuma lima menit.

Tolol, kataku... aku berguman sendiri, kenapa hanya sebentar saja aku berbicara dengan-Nya, padahal Dia adalah kekasih yang hakiki dan sejati?

Sementara kita bercerita sampai berjam-jam dan hanya menghabiskan segelas kopi atau teh dan pembicaraan yang tidak lain hanya menuai asap yang tidak menghasilkan apa-apa?

Mungkin beginilah cara kita untuk membagi antara yang gaib dengan yang nyata. Merumuskan yang gaib menjadi nyata dan menyatakan bahwa yang gaib itu lebih bersifat ruhani.

Tetapi jangan salah dengan apa-apa yang akan terjadi Esok, sebab Esok pun merupakan hal gaib yang mana kita tidak dapat mengetahuinya bahkan memastikannya.

Inilah awal sebuah akhir dari perjalanan itu yang manusia menjuluki sebagai dewa kematian. Kutinggalkan sejenak teman kecilku, aku tidak pernah melupakan dia walaupun aku selalu merasa seorang diri.

Dia sangat melekat dan memberi petuah-petuah agar aku selalu berjalan dan jangan menoleh ke belakang. Katanya, lihatlah ke depan, tengok kanan kiri, maju dengan kaki melangkah sebelah kanan, luruskan pandanganmu ke depan.

Yakini apa-apa yang telah kamu niatkan dengan ikhlas, jangan ragu dan silau dengan cahaya yang menyorot matamu, jangan hiraukan panas yang menyengat tubuhmu dan membakar wajahmu.

Lihatlah rambu-rambu dengan seksama. Dan engkau wajib lapor untuk setiap desahan nafasmu, agar engkau selamat dan diselamatkan. Kata-kata itu selalu menyemangatiku, kata temanku yang selalu ada di sisiku. Wajar saja kalau dia selalu cerewet dan bisa dibilang ribet.

Tetapi jujur saja aku suka dengan nasihat-nasihatnya, dan aku pun sudah melakukan sejak dini.

Bismillah, dengan asma Allah, sebuah kalimat sederhana yang sangat agung dan memiliki esensi luar biasa, mencakup segala aspek dan mengafani seluruh raga dan sukma.

Dan hatinya selalu tertaut dengan bismillah, bibirnya basah dengan bismillah, hidungnya beraroma dengan bismillah, kedua telapak tangannya sejuk dan memberi perdamaian untuk setiap yang disentuhnya.

Matanya yang tajam dan penuh cahaya bismillah. Kakinya yang kuat disinari bismillah, bekas telapak kakinya menyala karena bismillah. Bismillah untuk seluruh perbuatan yang akan kita lakukan. (Menyibak Keheningan Alam Kubur)

Candra P. Pusponegoro

Bengkel Manusia, Bukan Sembarang Bekam...! Town House Anggrek Sari Blok G/2 Kel. Taman Baloi Kec. Batam Kota, Kota Batam, Provinsi Kepri, Indonesia, 29463 | Tel. (+62) 778-4801831 & (+62) 812-6850-3533 & WhatsApp Only (+62) 813-2871-2147 | Email: info[at]terapioksidan[dot]com | Didukung CV. Rezeki Lumintu Abadi NPWP 74.941.304.3-225.000 Norek BRI 151-60-10000-24305 a/n CV. Rezeki Lumintu Abadi & Yayasan An Nubuwwah Batam www.an-nubuwwah.or.id SK Kemenkumham RI Nomor AHU-0032582.AH.01.04.Tahun 2016 NPWP 80.269.773.0-215.000