Keindahan Dukacita Bagian Pertama

Sunday, 27 March 2016 18:11 Written by  Published in Sastra & Budaya Read 654 times

Mahaagung Allah yang menguasai jiwa-jiwa orang yang beranjak meninggalkan dunianya menuju kedamaian dan ketenangan serta dukacita yang hampa dan sia-sia.

Angin bertiup menggugurkan bunga-bunga dan membawa aroma dupa dari langit kepada bumi. Pagi ini pukul 3.00 WIB, Al Jubron masih memegang tasbih dan membaca doa-doa untuk seluruh umat yang ada di bumi, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.

 Setelah bermunajat ke hadirat Sang Kuasa dia teringat akan kata-kata ayahnya saat masih  berumur sepuluh tahun. Al Jubron menirukan kata-kata sang ayah seolah-olah ayahnya berada di dekatnya, meski ayahnya sudah kembali keharibaan-Nya.

“Wahai Al Jubron seandainya aku melemparkan engkau pada bintang di langit yang luas membiru, maka engkau akan berbicara pada alam ini bahwa pijakan kakiku di bumi masih belum tersusun rapi, jika memang akan menjadi sebuah kenyataan agar aku hidup bersahabat dengan dengan bintang di langit, niscaya bintang-bintang itu akan jatuh berguguran ke bumi dan menghapuskan jejak langkah kaki ini”.

Dia begitu hafal dengan kata-kata sang ayah walau pun sudah hampir dua puluh enam tahun berlalu. Kemudian Al Jubron beranjak meninggalkan kamarnya menuju halaman rumah untuk menyaksikan gugusan bintang-bintang di langit.

Dia memandangi cakrawala. Dalam benaknya masih terpikirkan apa maksud dari semua kata-kata sang ayah. Dia berusaha menguraikan maksud yang tersembunyi di balik kata-kata itu.

Selama sepuluh menit Al Jubron berbicara kepada dirinya sendiri sambil memandangi gugusan bintang-bintang di langit.

Lalu dia berkata “Sebuah bintang dalam cakarawala tidak bisa dikatakan indah, namun beribu-ribu bintang bertaburan adalah keindahan dan keagungan”.

Tanpa terasa kabut tebal turun menyelimuti tubuh Al Jubron. Namun dia masih saja memandangi langit tanpa menghiraukannya.

Tidak lama azan subuh terdengar, Al Jubron segera menuju masjid yang tidak jauh dari rumahnya. Ini selalu dilakukan Al Jubron, meskipun sekarang harus dilakukan sendiri tanpa sang ayah.

Waktu terus berlalu Al Jubron semakin tumbuh dewasa dan menunjukkan kecerdasannya. Dia juga pandai dalam menyikapi lingkungan yang berada di sekelilingnya.

Dia termasuk orang yang peduli dengan lingkungan, terutama dengan  kegiatan keagamaan, sosial, dan budaya.

Dia senang mencurahkan hidupnya untuk membantu orang lain tanpa pamrih, semua ini berkat didikan sang ayah ketika ayahnya masih hidup. (Keindahan Dukacita I)

Candra P. Pusponegoro

Bengkel Manusia, Bukan Sembarang Bekam...! Town House Anggrek Sari Blok G/2 Kel. Taman Baloi Kec. Batam Kota, Kota Batam, Provinsi Kepri, Indonesia, 29463 | Tel. (+62) 778-4801831 & (+62) 812-6850-3533 & WhatsApp Only (+62) 813-2871-2147 | Email: info[at]terapioksidan[dot]com | Didukung CV. Rezeki Lumintu Abadi NPWP 74.941.304.3-225.000 Norek BRI 151-60-10000-24305 a/n CV. Rezeki Lumintu Abadi & Yayasan An Nubuwwah Batam www.an-nubuwwah.or.id SK Kemenkumham RI Nomor AHU-0032582.AH.01.04.Tahun 2016 NPWP 80.269.773.0-215.000