Menyusuri Jejak Cheng Ho

Sunday, 30 October 2016 03:15 Written by  Published in Sastra & Budaya Read 463 times

Batam menjadi salah satu pulau terbesar di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Ada tiga pulau cukup tersohor di sini, mulai dari Batam, Rempang, dan Galang (Barelang).

Lokasi Batam sangat strategis karena dekat dengan negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia. Tentu saja ini membuka akses jalur pelayaran.
 
Liburan di Batam dengan puluhan objek wisata tersedia lengkap. Ada beberapa objek wisata unggulan yang ditawarkan secara gratis atau berbayar.

Salah satu destinasi wisata yang mengagumkan adalah keberadaan kapal Cheng Ho di pantai Golden daerah Bengkong Laut Batam. Kapal ini menjadi ikon pariwisata yang sangat mengagumkan.
 
Golden Beach Complex atau komplek pantai Golden menjadi magnet wisatawan dari seluruh penjuru dunia.

Lokasi yang dikembangkan dari zaman ke zaman sangat terpadu didukung dengan lokasi yang sangat luas dan suguhan pemandangan lautnya yang eksotis. Kawasan yang memiliki luas lebih dari 15 hektar menjadi tujuan wisata paling mutkahir.
 
Berwisata dengan kapal Cheng Ho menjadi salah satu unggulan wisata air dikelola manajemen Golden Prawn dan hotel Golden View Batam.

Dalam sejarah zaman dulu, Laksamana Cheng Ho menjadi kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok yang berkuasa pada tahun 1403-1424 dan dia termasuk kaisar ketiga dari Dinasti Ming.

Sejarah mencatat nama asli Cheng Ho adalah Ma He yang dikenal dengan sebutan Ma Sanbao. Dia berasal dari Provinsi Yunnan.

Selama kekaisarannya, Cheng Ho sudah melakukan ekpedisi ke berbagai daerah di penjuru Asia dan Afrika. Cheng Ho telah mengunjungi pulau-pulau di Indonesia.
 
Ketika berkunjung ke Samudera Pasai, dia memberi lonceng raksasa Cakra Donya kepada Sultan Aceh yang kini tersimpan di museum Banda Aceh.

Lalu tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati daerah Cirebon Jawa Barat dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon.
 
Salah satu peninggalannya yang populer adalah sebuah piring yang bertuliskan ayat Alquran surat Al Baqarah 255 atau ayat kursi.

Peninggalannya kini masih tersimpan di keraton Kasepuhan Cirebon. Pernah dalam perjalanannya melalui laut Jawa, Wang Jinghong, orang kedua dalam armada Cheng Ho sakit keras.
 
Akhirnya Wang turun di pantai Simongan Semarang Jawa Tengah dan menetap di sana. Salah satu bukti peninggalannya antara lain Kelenteng Sam Po Kong atau Gedung Batu dan sebuah patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong.

Cheng Ho sempat berkunjung juga ke Kerajaan Majapahit pada masa raja Wikramawardhana.
 
Ir. Djoko Soesianto, Recreational Manager Golden View Bengkong Laut Batam saat dijumpai penulis beberapa waktu lalu mengatakan keberadaan kapal Cheng Ho menjadi wisata unggulan di Batam.

Memang selain kapal Cheng Ho, di sini juga berdiri kios pasar seni, foodcourt, sea sport, taman mini, kolam pemancingan, golden beach, sirkuit balap, sampai pasar malam.
 
“Semua fasilitas yang ada didesain alamia sehingga menimbulkan kesan yang ramah dan tradisional. Khusus kapal Cheng Ho ini menjadi andalan kami dan ini menjadi kebanggaan wisata di Batam,” ujar Ir. Djoko Soesianto, saat ditemui di Golden View Hotel Jalan Bengkong Laut, Batam.
 
Selama ini, kapal Cheng Ho bisa dinikmati para pengunjung yang ingin menjelajah lautan sekira dua jam. Berangkat dari lokasi menuju Pulau Putri dan selanjutnya mengelilingi laut sambil menyaksikan pemandangan darat dan lautan yang eksotis.

Hanya saja yang ingin menikmati penjelajahan laut harus secara kelompok dan tidak bisa per orangan.

Taklukkan Bajak Laut
 
Pelayaran pertama Laksamana Cheng Ho seabad sebelum pelayaran pelaut pemberani dari Eropa, Vasco da Gama.

Kapal Vasco da Gama berukuran lebih kecil dibandingkan milik Cheng Ho. Panjang 23 meter dan lebarnya 5 meter. Sedangkan kapal Cheng Ho sepanjang 122 meter dan lebarnya 52 meter.
 
Pada pelayaran pertama, armada Laksamana Cheng Ho berhasil menjelajah ke daratan di Asia Tenggara atau semenanjung Melayu, Sumatera, dan Jawa.

Kemudian perjalannya dilanjutkan ekspedisi kedua tahun 1407-1409 dan ekspedisi ketiga 1409-1411 yang mampu mendarat di India dan Sri Lanka.
 
Selanjutnya ekspedisi keempat, sekitar tahun 1413-1415, Cheng Ho mencapai Teluk Persia, Daratan Arab, dan Mogadhisu (Afrika Timur).

Jalur ini diulang pada pelayaran kelimanya tahun 1417-1419 dan keenamnya tahun 1421-1422. Kemudian ekspedisi terakhir dilakukan pada tahun 1431-1433 yang berhasil mencapai Laut Merah, Timur Tengah.
 
Selama perjalanannya, Laksamana Cheng Ho memberikan hadiah kepada orang daerah yang dikunjunginya berupa porselin, sutera, atau lainnya.

Sebaliknya Cheng Ho juga menerima hadiah seperti Zebra Afrika dan Jerapah. Selama kunjungannya, Cheng Ho dan armadanya menghormati budaya dan kebiasaan masyarakat lokal.
 
Misalnya ketika berada di Ceylon, dia membangun monumen tiga agama yaitu Islam, Buddha, dan Hindu. Armada Laksamana Cheng Ho tidak mengutamakan peperangan untuk menyelesaikan masalah atau persoalan.

Justru Laksamana Cheng Ho lebih menyukai cara diplomasi untuk mencari solusi dan menyebarkan paham Dinasti Ming.
 
Dalam beberapa penjelajahan, Cheng Ho tetap mengerahkan kekuatannya seperti ketika menumpas Bajak Laut di Ceylon atau ketika melawan armada lokal di Arab dan Afrika karena mengancam keberadaan armadanya.

Selama penjelajahan, Cheng Ho tidak pernah mengedepankan perdagangan sebab dia bukan merupakan seorang pedagang.
 
“Misinya menunjukkan organisasi yang baik dan teknologi maju kepada dunia. Ekspedisinya memudahkan pedagang China untuk mencapai dan berdagang hingga ke seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia,” ujar Ir. Djoko Soesianto, Recreational Manager Golden View Bengkong Laut Batam.  
 
Tentu saja, lanjut Djoko, selain wisata jelajah laut, pengunjung disediakan arena bermain seperti sea sport centre. Kelengkapan meliputi banana boat, jet ski, parasailing, wake board, kayak atau canoe, package deala, ufo boat, dan speed boat.

Keberadaan fasilitas ini ditawarkan kepada pengunjung yang menyukai tantangan-tantangan di laut. Termasuk keberadaan pasar malam yang selalu ramai dikunjungi setiap sore hari, umumnya para keluarga.

Adanya komidi putar, ayunan, kereta, mandi bola, playing ground, jungkat-jungkit, battery car, atau kapal-kapalan yang menjadi destinasi tambahan untuk menjadikan para pengunjung betah dan mendapat hiburan bervariasi selama di lokasi.
 
Selain itu, tersedia lokasi out bound yang sering digunakan untuk melatih mental dan spiritual seseorang. Ditambah lokasi flying fox, paint ball, arena tembak-tembakan, dan adventures.

Lokasi ini menjadi wahana hiburan yang menyenangkan. Lalu didukung dengan tempat shooting target yang membuat suasana outbond kian menegangkan.
 
“Fasilitas yang dikembangkan sebagai pelengkap kebutuhan akan wisata. Termasuk kolam pemancingan lele, sirkuit balap motor, miniatur rumah adat, dan tempat lainnya yang disuguhkan untuk memberikan edukasi kepada pengunjung,” ujar Djoko.

Candra P. Pusponegoro

Bengkel Manusia, Bukan Sembarang Bekam...! Town House Anggrek Sari Blok G/2 Kel. Taman Baloi Kec. Batam Kota, Kota Batam, Provinsi Kepri, Indonesia, 29463 | Tel. (+62) 778-4801831 & (+62) 812-6850-3533 & WhatsApp Only (+62) 813-2871-2147 | Email: info[at]terapioksidan[dot]com | Didukung CV. Rezeki Lumintu Abadi NPWP 74.941.304.3-225.000 Norek BRI 151-60-10000-24305 a/n CV. Rezeki Lumintu Abadi & Yayasan An Nubuwwah Batam www.an-nubuwwah.or.id SK Kemenkumham RI Nomor AHU-0032582.AH.01.04.Tahun 2016 NPWP 80.269.773.0-215.000