Sejarah Perkembangan Bekam di Indonesia Featured

Wednesday, 12 March 2014 00:00 Written by  Published in Alamiah Read 3037 times

Bekam merupakan metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah statis yang mengandung toksin dari dalam tubuh manusia. Berbekam dengan cara melakukan pemvakuman di kulit dan pengeluaran darah darinya.

Pengertian ini mencakup dua mekanisme pokok dari bekam, yaitu proses pemvakuman kulit dan dilanjutkan dengan pengeluaran darah dari kulit yang telah divakum sebelumnya. Dalam bahasa Jawa disebut cantuk atau kop. Di Sumbawa dan sekitarnya disebut tangkik atau batangkik.

Dalam bahasa Arab disebut hijamah. Dalam Bahasa Inggris disebut blood cupping atau blood letting atau cupping therapy atau blood cupping therapy atau cupping therapeutic.

Dalam bahasa Mandarin disebut pa hou kuan. Di Asia Tenggara, Malaysia, dan Indonesia dikenal dengan sebutan bekam. Hijamah atau bekam memiliki padanan kata lain. Di antaranya cupping atau blood letting atau kop atau chantuk, oxidant drainage therapy, dan oxidant releasing therapy.

Jika Anda menemukan metode pengobatan ini dengan istilah lainnya, maka sesungguhnya adalah bekam dan dikenal sejak zaman dulu, yaitu pada kerajaan Sumeria.

Pengobatan ini kemudian berkembang sampai Babilonia, Mesir kuno, Saba, dan Persia. Pada zaman Rasulullah, beliau menggunakan tanduk kerbau atau sapi, tulang unta, atau gading gajah.

Pada zaman China kuno mereka menyebut hijamah sebagai perawatan tanduk karena tanduk menggantikan kaca. Pada kurun abad ke-18 (abad ke-13 Hijriyah), orang-orang di Eropa menggunakan lintah sebagai alat untuk hijamah.

Pada suatu waktu, 40 juta lintah diimpor ke negara Perancis untuk tujuan itu. Lintah-lintah itu dilaparkan tanpa diberi makan. Jadi bila disangkutkan pada tubuh manusia, dia akan terus menghisap darah tadi dengan efektif.

Setelah kenyang, ia tidak berupaya lagi untuk bergerak dan terus jatuh lantas mengakhiri upacara hijamahnya.

Seorang herbalis Ge Hong (281-341 M) dalam bukunya A Handbook of Prescriptions for Emergencies menggunakan tanduk hewan untuk membekam atau mengeluarkan bisul yang disebut tehnik jiaofa.

Sedangkan pada masa Dinasti Tang, bekam dipakai untuk mengobati TBC paru-paru. Pada kurun abad ke-18 (abad ke-13 Hijriyah), orang-orang di Eropa menggunakan lintah (al ‘alaq).

Tujuannya sebagai alat untuk bekam atau dikenal dengan istilah Leech Therapy dan masih dipraktekkan hingga saat ini.

Kini pengobatan ini dimodifikasi dengan sempurna dan mudah pemakaiannya sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah dengan menggunakan suatu alat yang praktis dan efektif.

Disebutkan oleh Curtis N J (2005), dalam artikel Management of Urinary tract Infections: historical perspective and current strategies: Part 1 before antibiotics, Journal of Urology, 173 (1): 21-26, January 2005.

Bahwa catatan Textbook Kedokteran tertua Ebers Papyrus yang ditulis sekitar tahun 1550 SM di Mesir kuno menyebutkan masalah bekam.

Hippocrates (460-377 SM), Celsus (53 SM-7 M), Aulus Cornelius Galen (200-300 M) memopulerkan cara pembuangan secara langsung dari pembuluh darah untuk pengobatan di zamannya.

Dalam melakukan teknik pengobatan tersebut, jumlah darah yang keluar cukup banyak. Sehingga tidak jarang pasien yang pingsan.

Cara ini juga sering digunakan oleh orang Romawi, Yunani, Byzantium, dan Itali oleh para rahib yang meyakini akan keberhasilan dan khasiatnya.

Kapan hijamah atau bekam dikenal dan berkembang di Indonesia?

Tidak ada catatan resmi mengenai kapan metode bekam ini masuk ke Indonesia. Diduga kuat pengobatan ini masuk seiring dengan masuknya para pedagang Gujarat dan Arab yang menyebarkan agama Islam.

Metode ini dulu banyak dipraktekkan oleh para kyai dan santri yang memelajarinya dari “kitab kuning” dengan teknik yang sangat sederhana.

Yakni menggunakan api dari kain atau kapas atau kertas yang dibakar untuk kemudian ditutup secepatnya dengan gelas atau bekas botol.

Waktu itu banyak dimanfaatkan untuk mengobati keluhan sakit atau pegal-pegal di badan dan sakit kepala atau yang dikenal dengan istilah “masuk angin”.

Tren pengobatan ini kembali berkembang pesat di Indonesia sejak tahun 1990-an, terutama dibawa oleh para mahasiswa atau pekerja Indonesia yang pernah belajar di Malaysia, India, dan Timur Tengah.

Kini pengobatan ini dimodifikasi dengan sempurna dan mudah pemakaiannya sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah dengan menggunakan suatu alat yang higienis, praktis, dan efektif.

Organisasi Pembekam di Indonesia

Organisasi Bekam yang telah menjalin kemitraan dengan Departemen Kesehatan Indonesia dalam hal ini berada di bawah Direktorat Pelayanan Kesehatan Tradisional.

Organisasi ini menginduk Dirjen Bina Kesehatan Ibu dan Anak adalah Asosiasi Bekam Indonesia (ABI) dan Ikatan Terapis Bekam Indonesia (ITBI).

Berdirinya Asosiasi Bekam Indonesia (ABI) dan Ikatan Terapis Bekam Indonesia (ITBI) adalah suatu keharusan yang wajib didukung oleh setiap warga Indonesia apapun status sosialnya.

Asosiasi ini didirikan pada 10 Nopember 2007 dengan proses perjuangan yang cukup melelahkan dan kesabaran yang tinggi.

ABI dan ITBI merupakan wadah para praktisi dan pengobatan bekam dari berbagai pelosok bumi nusantara yang mandiri dan telah berperan aktif untuk menyehatkan bangsa.

Ini sejalan dengan Visi Departemen Kesehatan "Masyarakat Mandiri untuk Hidup Sehat“. (wikipedia)

Candra P. Pusponegoro

Bengkel Manusia, Bukan Sembarang Bekam...! Town House Anggrek Sari Blok G/2 Kel. Taman Baloi Kec. Batam Kota, Kota Batam, Provinsi Kepri, Indonesia, 29463 | Tel. (+62) 778-4801831 & (+62) 812-6850-3533 & WhatsApp Only (+62) 813-2871-2147 | Email: info[at]terapioksidan[dot]com | Didukung CV. Rezeki Lumintu Abadi NPWP 74.941.304.3-225.000 Norek BRI 151-60-10000-24305 a/n CV. Rezeki Lumintu Abadi & Yayasan An Nubuwwah Batam www.an-nubuwwah.or.id SK Kemenkumham RI Nomor AHU-0032582.AH.01.04.Tahun 2016 NPWP 80.269.773.0-215.000