Efektifitas Bekam Untuk Nyeri 4 Featured

Friday, 03 November 2017 00:13 Written by  Published in Ilmiah Read 196 times

Nyeri pada pasien dengan cephalgia pada saat pertama kali pengukuran menggunakan skala nyeri terlihat tinggi 4-8. Setelah mendapat perlakuan terapi bekam, skala nyeri pasien dengan cephalgia turun ke angka 0-4 yang berarti ada penurunan rentang nyeri.

Setelah peneliti melakukan penelitian dan hasilnya dianalisis menggunakan uji statistik uji T dependent diperoleh nilai p 0,00 lebih kecil dari nilai p 0,05. Nilai paired correlation adalah senilai 67.9%.

Artinya efektifitas terapi bekam pada pasien nyeri kepala adalah sebesar 67.9% dan 32.1%  sisanya dipengaruhi faktor lain. Maka didapatkan kesimpulan ada hubungan yang signifikan antara skala nyeri sebelum dan sesudah perlakuan terapi bekam pada pasien dengan cephalgia.

Pada data hasil penelitian ini didapat rata-rata skala nyeri sebelum bekam 5.8750 dan setelah bekam menjadi 1.7500. Bila melihat pada kriteria skala nyeri yaitu 0-10 maka jelaslah skala nyeri menunjukkan perubahan yang bermakna.

Peneliti berasumsi bahwa, pasien dengan cephalgia yang mendapat perlakuan mengalami penurunan angka nyeri pada skala nyeri sebelumnya yang diukur sebelum diterapi bekam.

Hal ini terjadi karena dasar mekanisme yang baik tentang bekam yang menyetimulasi saraf di mana pada titik bekam yang merupakan titik meridian adalah daerah-daerah yang banyak mengandung mitokondria, pembuluh darah, dan mengandung banyak mioglobin.

Jaringan di sekitar titik bekam juga memiliki sel mast yang banyak dan juga serabut saraf pleksus. Semua ini adalah faktor yang membuat titik bekam lebih sensitif terhadap rangsangan.

Bekam di sini memiliki efek terhadap neurotransmitter yang nantinya akan menyetimulasi pelepasan endorfin yang mengurangi kepekaan terhadap nyeri. Penelitian lain juga mengevaluasi efek bekam terhadap sakit kepala dilakukan di Qatar.

Dalam penelitian ini, hasilnya menunjukkan bahwa ada penurunan dalam skala nyeri dari 7 (pada tahap awal) sampai 3 (di tahap akhir bekam). Berdasarkan pada penelitiannya, dijelaskan bahwa bekam dapat mengerahkan efek terapeutik melalui pengaruh dari tiga sistem yang sistem syaraf, sistem kekebalan tubuh, dan sistem hematologis (Isniza, 2011).

Tubuh kita mempunyai zat anti nyeri alami yaitu neuropeptida endorgenic morphin atau biasa disebut endorphin, dan enkephalin. Enkefalin diproduksi dalam adrenal yang letaknya di ujung atas dari ginjal sedangkan endorphin dibuat di dalam kelenjar pituitary (pituitary glands) yang letaknya di dasar otak.

Keduanya adalah sejenis morfin alami. Selain bekerja di otak dan saraf, keduanya beredar bersama aliran darah. Zat morfin alami ini selalu ada dalam tubuh dengan kadar tertentu.

Kadar normal dalam tubuh yang sehat berada di antara kadar minimal dan maksimal. Kadar endorphin yang terlalu rendah akan menimbulkan rasa sakit di bagian tubuh, sedangkan jika terlalu banyak, tidak ada rasa sakit dengan akibat organ yang rusak tidak terdeteksi sehingga semakin rusak (Guyton, 1994).

Hal ini juga telah mejelaskan bahwa terapi bekam mungkin memiliki efek pada regulasi neurotransmitter dan hormon, salah satunya adalah endorphin. Seperti kita ketahui, endorphin adalah salah satu opiat endogen dalam tubuh kita yang  berasal dari morfin, seperti keluarga neuropeptida.

Mereka menghambat transmisi nyeri di otak, sumsum tulang belakang dan mengikat satu atau lebih G-protein-coupled opioid receptors (Isniza, 2011). Endorphin menutupi rasa sakit yang tidak diperlukan.

Contohnya jika kita menekankan lengan di meja, seharusnya terasa sakit karena otot lengan beradu dengan meja yang keras. Namun terasa tidak sakit, karena endorphin (dalam kadar normal) yang meniadakan rasa sakit tersebut.

Kedua zat antinyeri tersebut terutama endorphin, dapat dimanipulasi dengan olahraga. Olahraga dapat mengeblok rasa sakit karena telah dibuktikan bahwa olahraga dapat meningkatkan produksi endorphin, memperbaiki sirkulasi, melemaskan otot-otot dan memudahkan tidur nyenyak.

Dengan demikian, tubuh menjadi resisten terhadap rasa sakit, mampu bertahan terhadap kelelahan dan sakit kepala yang disebabkan ketegangan (Sa’adah, 2011).

Kesimpulan dan Saran

Didapatkan bahwa rerata skala nyeri sebelum terapi bekam pada pasien cephalgia adalah 5.9 serta nilai minimal 4 dan nilai maksimal 8. Rerata skala nyeri sesudah terapi bekam pada pasien cephalgia adalah 1.8 serta nilai minimal 0 dan nilai maksimal 4 dengan kesimpulan terapi bekam efektif terhadap penurunan nyeri pada pasien cephalgia.

Saran kepada penderita nyeri kepala (cephalgia) dan keluarganya agar memanfaatkan terapi bekam. Menambah pengetahuan masyarakat tentang terapi komplementer dapat dijadikan sebagai tambahan pengetahuan yang baru dalam keberhasilan perawatan pasien cephalgia.

Selain itu perlu adanya penyempurnaan pada skripsi ini yang pada penelitiannya terdapat banyak keterbatasan. Sehingga peneliti menyarankan untuk meneliti berikutnya melakukan penelitian lanjutan dengan judul “Efektifitas Terapi Bekam (Terapi Oksidan) Terhadap Penurunan Nyeri Kepala pada Pasien dengan Trauma Kepala”. (The Indonesian Journal of Health Science Vol. 3, Nomor 1, Desember 2012 | Yugi Hari Chandra Purnama/Wahyudi Widada/Moh. Ali Hamid)

Candra P. Pusponegoro

Bengkel Manusia, Bukan Sembarang Bekam...! Town House Anggrek Sari Blok G/2 Kel. Taman Baloi Kec. Batam Kota, Kota Batam, Provinsi Kepri, Indonesia, 29463 | Tel. (+62) 778-4801831 & (+62) 812-6850-3533 & WhatsApp Only (+62) 813-2871-2147 | Email: info[at]terapioksidan[dot]com | Didukung CV. Rezeki Lumintu Abadi NPWP 74.941.304.3-225.000 Norek BRI 151-60-10000-24305 a/n CV. Rezeki Lumintu Abadi & Yayasan An Nubuwwah Batam www.an-nubuwwah.or.id SK Kemenkumham RI Nomor AHU-0032582.AH.01.04.Tahun 2016 NPWP 80.269.773.0-215.000